Inspirasi Tanpa Batas

Urgensi Pendidikan Agama Islam di Sekolah

0 94

Konten Sponsor

Urgensi Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Mengapa Sekolah masih harus mengajarkan Pendidikan Agama Islam [PAI] kepada peserta didiknya? Bukankah UUSPN Nomor 20 tahun 2003 telah mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan nasional untuk membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt.? Dengan tujuan semacam ini,

Pendidikan agama Islam adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya sikap menurut kaidah-kaidah Islam. Dari pengertian ini nampaknya ada dua dimensi yang akan diwujudkannya, yaitu dimensi transendental (ukhrawi) dan dimensi yang bersifat profan (duniawi). Dimensi transendental yakni ketaqwaan, keimanan dan keikhlasan. Sedangkan dimensi duniawi melalui nilai-nilai material sebagai sarananya, seperti pengetahuan, kecerdasan, ketrampilan dan sebagainya.

Dengan demikian, pendidikan agama adalah upaya religiosisasi perilaku dalam proses bimbingan melalui dimensi transendental dan duniawi menuju terbentuknya kesalehan individual dan sosial. Hal ini sebagaimana secara gamblang ditegaskan YB Mangunwijaya [1986: 24], bahwa tujuan pendidikan agama secara normatif adalah menciptakan sistem makna untuk mengarahkan perilaku kesalehan dalam manusia dalam kehidupannya. Oleh karena itu, pendidikan agama harus mampu memenuhi kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan memenuhi tujuan agama yakni memberikan kontribusi terhadap terwujudnya kehidupan keberagamaan.

Perbedaan Makna Agama dan Keberagamaan

Jika ditelusuri berdasarkan pengertian kebahasaan antara agama dan keberagamaan memiliki makna yang berbeda. Agama lebih menitikberatkan pada kelembagaan yang mengatur tata cara penyembahan manusia kepada penciptanya dan mengarah pada aspek kuantitas, sedangkan keberagamaan lebih menekankan pada kualitas manusia beragama. Agama dan sikap keberagamaan merupakan kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi, karena keduanya merupakan konsekuensi logis kehidupan manusia yang diibaratkan selalu mempunyai dua kutub, yaitu kutub pribadi dan kebersamaannya di tengah masyarakat.

Penjelasan ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan Glock dan Stark [1965: 215] yang memahami keberagamaan sebagai suatu kepercayaan terhadap ajaran-ajaran agama tertentu dan dampak dari ajaran itu dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Sikap keberagamaan dimaksudkan sebagai pembuka jalan agar kehidupan orang beragama menjadi semakin intens. Semakin orang religius, hidup orang itu semakin nyata atau semakin sadar terhadap kehidupannya sendiri. Bagi orang beragama, intensitas itu tidak bisa dipisahkan dari keberhasilannya untuk membuka diri terus menerus terhadap pusat kehidupan. Inilah yang disebut keberagamaan sebagai inti kualitas hidup manusia, karena ia adalah dimensi yang berada dalam lubuk hati dan getaran murni pribadi.

Keberagamaan sama pentingnya dengan ajaran agama, bahkan keberagamaan lebih dari sekedar memeluk ajaran agama, keberagamaan mencakup seluruh hubungan dan konsekuensi, yaitu antara manusia dengan penciptanya dan dengan sesamanya di dalam kehidupan sehari-hari [lihat Joachim Wach, 1958: 212]. By. Dr. Ety Tismayati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar