Urusan Agama Sebelum Terbentuknya Kementerian Agama

0 86

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), yang dahulu bernama Departemen Agama Republik Indonesia (Depag RI) adalah sebuah lembaga yang membidangi urusan keagamaan dalam pemerintahan Indonesia.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, segala urusan agama berada di bawah pengawasan beberapa jawatan sebagai berikut :

  1. Pamong Praja yang mengurusi masalah-masalah sosial umat Islam seperti, pengangkatan penghulu, anggota Raad Agama dan pegawai-pegawai pekauman, urusan masjid, zakat fitrah, haji, perkawinan, pengajaran agama dan lain-lain.
  2. Departemen van Justitie yang merupakan sebuah organisasi dan pekerjaan Mahkamah Islam Tinggi dengan Raad Agama dan penasihat agama.
  3. Kantoor voor Inlandsche Zaken yang menjadi penasihat pemerintah Hindia Belanda dalam urusan agama dengan seluas-luasnya.
  4. Departement van Onderwijs en Eeredienst menyelesaikan urusan agama Kristen yang mencakup gereja-gereja, pendeta-pendeta dan pastor-pastor.

Berbeda dengan masa penjajahan Jepang yang pada hakikatnya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Kecuali satu, yakni Kantoor voor Indlandsche Zaken yang ditiadakan dan diganti menjadi Shumubu atau dalam bahasa Indonesia berarti Kantor Urusan Agama, yang merupakan bagian dari Guneseikanbu. Sementara, untuk di daerah-daerah Jepang membentuk sebuah lembaga yang bernama Shumuka, sebagai bagian dari pemerintah Keresidenan.

Kondisi umat Islam sebelum dibentuknya beberapa lembaga yang mengatur urusan Agama (Masa Belanda)

Pada masa Belanda, sebelum dibentuk beberapa lembaga yang telah penulis jelaskan diatas, urusan agama menjadi tugas Departemen Pengajaran atau Onderwys en Ere Dients yang pada dasarnya dikesampingkan. Seolah agama merupakan suatu hal yang tidak perlu di campuri dengan urusan kenegaraan, pemerintah tak memperkenankan agama dijadikan sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah.

Agama seperti hanya dijadikan suatu hal yang mencakup urusan peribadatan saja. Bahkan lebih parah dari itu, agama juga dijadikan sebagai alat yang diperhalus oleh Belanda. Sehingga selama berabad-abad Agama Islam dikalangan umat Islam itu sendiri hanya menjadi suatu hal yang terbelakang dan menimbulkan beberapa kemunduran lainnya.

Selain yang sudah dijelaskan diatas, segala macam bentuk kegiatan Umat Islam pada saat itu sangat diawasi kolonial Belanda, dan jika kegiatan yang dilakukan Umat Islam mampu menjadi pengahalau keberadaan Belanda, Belanda tidak akan segan-segan menghentikannya. Seperti ketika umat Islam menjadikan masjid-masjid sebagai tempat kegiatan permusyawaratan bagi kalangan umat Islam untuk membicarakan segala hal bagi kepentingan umat Islam dan Bangsa Indonesia. Belanda langsung dengan sigap memberhentikan kegiatan tersebut. Dengan umat Islam seolah tidak diperbolehkan mengalami kemajuan.

Kondisi Umat Islam pada masa Penjajahan Jepang

Pada masa Penjajahan Jepang, umat Islam mulai diperhatikan dan diberikan kesempatan untuk meningkatkan diri mereka masing-masing. Tetapi sayang, perhatian yang diberikan Jepang tersebut mempunyai tujuan tertentu. Tidak lain tujuan itu ialah untuk kepentingan Jepang sendiri. Mengingat Jepang ketika menjajah Indonesia juga tengah terlibat dalam konflik Pasifik, yakni Perang Dunia ke 2.

Intinya para alim ulama diberi perhatian besar, dihormati, dan sebagainya guna untuk memperkuat kedudukan Jepang. Mengingat Umat Islam di Indonesia merupakan umat yang mayoritas dan mempunyai pengaruh besar dalam menggerakan suatu hal, mengingat para alim ulama telah menerima beberapa perbekalan (ilmu yang sudah cukup matang) di Negara-negara besar Islam untuk melakukan sebuah pembaharuan.

Sumber : Wahid Hasjim. 2011. “Biografi A. Wahid Hasjim”. Bandung : Mizan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.