Usaha Ibnu Thufail dalam Menghidupkan Filsafat | Intelektual Muslim Part-13

0 40

Ibnu Thufai lahir di Guadix, Spanyol pada tahun 1105 dan meninggal di Marrakesh, Maroko pada tahun 1185. Inilah filosof Muslim Spanyol yang sangat kuat dipengaruhi filsafat Ibnu Sina, al Ghazali, Al Farabi, Aristoteles dan Plato. Baca: (Ibnu Thufail Dan Novelat Sastra Alegoris) Saat Ibnu Thufail lahir, dunia Islam sedang dihinggapi suatu penyakit akut bernama anti filsafat. Filsafat dianggap helenis dan paganis sekaligus. Karena itu, beberapa pemikir Muslim yang memiliki kecenderungan terhadap corak berpikir filsafat, bukan saja berada dalam jumlah yang sangat kecil, tetapi, juga menjadi kegiatan under ground karena mereka melakukan pendalaman filsafat dengan cara yang sembunyi dan bersipat rahasia. Untuk kepentingan itu, baca (Wajah Dunia Islam Saat Al Ghazali Lahir)

Masyarakat Muslim saat itu, mulai dari Bagdad termasuk tentu di Spanyol, masih menganggap filsafat sebagai sesuatu yang sesat dan bertentangan kalau bukan malah membahayakan terhadap ajaran Islam. Karya “Hayy ibnu yaqzhan” ini, lahir dalam situasi masyarakat Muslim yang anti akan perkembangan filsafat. Karya ini merupakan symbol perlawanan Ibnu Thufail terhadap rezim penguasa di satu sisi, namun juga mendidik rakyat di sisi lainnya. Dengan tuturan bahasa rakyat yang sederhana dan alegoris. Thufail ingin masyarakat Muslim mudah memahami dan menerima filsafat sebagai kajian keilmuan yang tidak dilarang dalam agama (Islam).

Padahal kondisi social dan budaya, serta politik yang membingkai suatu negara, akan sangat mempengaruhi peradaban suatu bangsa dimaksud. Dalam situasi politik dan kondisi social budaya yang relative mengalami deklanasi dalam dunia Islam, termasuk atas apa yang terjadi di Cordova, Spanyol, di mana Ibnu Thufail, Ibnu Bajjah, Ibnu Masarrah, Ibnu ‘Arabi, Ibnu Hazm dan asy-Syathibi lahir dan mengembangkan corak filosofinya, dunia Islam sedang berada dalam titik kemunduran. Karena itu menjadi dapat dimengerti mengapa, coraknya sangat pelan, berbeda dengan masa al Razi dan Ibnu Sina di Bagdad

Corak Intelektualisme Ibnu Thufail

Ibnu Thufail, ia dianggap memiliki tipikal intelektual yang kompromistik dengan kekuasaan. Sikapnya yang tidak konfrontatif, ditambah dengan kemampuan dirinya dalam dunia kedokteran, yang menyebabkan dirinya diangkat menjadi dokter dan penasehat kerajaan, telah membuat diri dan komunitas filosof masuk ke dalam lingkaran kekuasaan.

Melalui tangan dingin yang terampil ini pula, ia akhirnya dapat memasukan unsur-unsur filosofi ke dalam system negara, karena ia memiliki kemerdekaan intelektual. Situasi ini diperkuat ketika khalifah al-Hakam al-Mustanshir Billah (961-976), putra dari khalifah pertama, Abdurrahman ad-Dakhil, menjadi khlaifah. Di tempat inilah, akhirnya perkembangan ilmu pengetahuan dapat dipertahankan dalam dunia Islam. Kemajuan pengetahuan dalam dunia Islam ini, semakin meningkat lagi ketika pemerintahan dipegang Abu Ya’qub Yusuf al-Mansur (558-580 H) yang dikenal gemar akan ilmu pengetahuan, termasuk tentu filsafat didalamnya. **


Penulis         : Prof. Dr. H. Cecep Sumarna
Penyunting  : Acep M Lutvi
Diterbitkan  : www.lyceum.id

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.