Vatikan dalam Bingkai Negara-Kota Agama Dunia

0 201

Inilah perpektif lain yang pernah penulis tulis ketika singgah di Negara-Kota Vatikan. Cuaca waktu itu, berada dalam kisaran minus 6 derajat celcius. Lima lapis jaket yang digunakan, tidak serta merta membuat tubuh menjadi hangat. Kebiasaan tinggal di tempat tropik seperti Indonesia, menyebabkan saya harus banyak melakukan adaftasi. Tapi di Negara-Kota inilah, akhirnya ditemukan sesuatu yang sangat unik. Bagaimana tidak unik. Negara dengan tingkat populasi yang terbatas, dengan ruang lingkup yang juga terbatas, tetapi dari sinilah semaian peradaban dimulai.

Kondisi Objektif Vatikan

Nama Vatikan diambil dari Citta del Vatikano dari Bahasa Italia. Ada juga yang mengatakan Civitas Vaticana dalam Bahasa Latin. Inilah negara-Kota terkecil di dunia yang diakui Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Negara-Kota ini, dikelilingi dinding tebal yang memisahkannya dengan Kota Roma Italia.

Di samping kiri dan kanan serta seluruh didinding yang memisahkan Vatikan dengan Italia itu, dipercantik  dengan pahatan patung yang menggambarkan para pemimpin (Paus) di Vatikan. Inilah negara kota yang menjadi sebuah enklaf yang membatasi diri dengan Kota Roma sekalipun.

Tahukah anda berapa luas wilayah negara-Kota ini? Ternyata negara sangat kecil yang mempengaruhi kebijakan politik dan ekonomi dunia ini, hanya memiliki luas wilayah kurang lebih 440.000 M2 atau 44 hektar dengan populasi penduduk sekitar 842 jiwa.

Prinsip Dasar Negara

Negara yang menggunakan prinsip eklesiatik atau system monarchi-sakerdotal ini, dipimpin seorang uskup Roma, yakni Paus. Paus tidak selalu harus orang Italia apalagi hanya dari Roma. Jangankan Paus, para pejabat yang menguasai dan memimpin negara ini, diambil dari seluruh klerus Katholik berbagai negara di dunia.

Kapan Negara-Kota ini dibangun? Ternyata ia dibangun pada tahun 1377 Masehi, ketika Paus pulang dari Avignon dan kemudian tinggal di suatu tempat yang hari ini disebut dengan Kota Vatikan. Namun demikian, ia terbentuk menjadi sebuah Negara-Kota mandiri, tidak terikat dengan negara lain, termasuk dengan Italia, secara resmi baru berdiri sebagai sebuah negara pada tahun 1929 Masehi.

Sejak tahun itulah, Vatikan menciptakan tanah suci dalam perpektif masyarakat Kristen. Sejak tahun dimaksud pula, Vatikan yang sebelumnya menguasai hamper setengah dari negara Italia, akhirnya diberi tempat khusus sebagai negara Kota suci Kristen yang memiliki hak kepemilikan penuh, kekuasaan ekslusive, yurisdiksi sendiri dan otoritas tunggal yang berdaulat, terpisah dari Italia, dan menjadi Negara Kota bernama Vatikan.

Jika Vatikan hanya memiliki penduduk sebanyak 842 jiwa dan mereka adalah otomatis para pemimpin pemerintahan, maka, siapa dan seberapa banyak anggota negara Vatikan ini? Negara yang dipimpin Paus ini,  ternyata menjandi pemimpin (imam) bagi seluruh pengikut ajaran agama Katholik yang berjumlah kurang lebih 1,2 Milyar dari seluruh penduduk masyakat bumi. Inilah yang menyebabkan Negara-Kota yang demikian kecil ini, tumbuh dengan pengaruhnya yang sangat besar di muka bumi.

Kota Vatikan,

Hasil Yang Diperoleh Selama di Vatikan

Setidaknya, saya menemukan tiga hal yang unik selama tinggal di negara kota yang sangat kecil ini. Ketiga hal dimaksud adalah: Pertama, Agama apapun yang dibawa para Rasul Allah, dalam perjalanannya, selalu tersedia suatu ruang yang layak atau patut untuk disebut suci. Vatikan telah membuktikan diri sebagai sebuah negara Kota yang bukan hanya diakui oleh pengikutnya sebagai tempat yang suci, tetapi, juga oleh komunitas agama lain. Ada sesuatu yang patut atau layak untuk disakralkan. Upaya pensyakralan ini, akan memiliki dampak pada tingkat tertentu untuk mendorong penganutnya pada ketaatan yang total akan ajaran agama. Inilah yang mengikatkan diri seseorang panganut agama pada ajaran agama yang dianut.

Kedua, setiap agama selalu memiliki nilai-nilai universalitasnya yang mendorong setiap manusia untuk selalu hidup dalam citra kemanusiaan yang universal. Inilah nilai universalitas yang dapat mendorong setiap pengikut agama, apapun itu, termasuk Kristen Katholik, untuk bersatu dalam satu kesamaan pandangan keberagamaan. Ia tidak memiliki ruang batas wilayah dan geograpi. Prinsip dasar ajaran agama yang semacam ini, dalam kasus-kasus tertentu, dapat mendorong kesadaran setiap pemeluk agama, untuk memiliki missi dalam menyebarkan ajaran agama dan menjaga pengikut agamanya agar tetap taat pada aturan agama, dimanapun mereka tinggal. Dalam makna pejoratif, inilah yang membahayakan pergaulan antara masyarakat yang berbeda.

Ketiga. Saya melihat adanya simbol yang menyatukan prinsip dasar yang pertama dan kedua itu. Simbol itu bukan hanya tersedia dalam bentuk patung, mulai dari penyaliban Isa, patung Siti Maryam dan patung-patung lain yang menjadi Paus, tetapi, juga sesuatu yang secara esensial dapat menggerakan jiwa kebersamaan dalam kehidupan komunal yang dimiliki agama dimaksud.

Jika perspektif ini kemudian ditransformasi ke dalam lingkup kehidupan sosial yang kompleks, maka, tatanan ekonomi, politik dan budaya, akhirnya akan terengkuh dengan sendirinya. Inilah saya kira, saya, terpaksa harus agak lama melihat dan mengamati setiap patung yang terdapat di Vatikan.***Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.