Inspirasi Tanpa Batas

Viralnya Jalan Seribu Lubang Kabupaten Tasikmalaya

0 0

Konten Sponsor

Viralnya Jalan Seribu Lubang Kabupaten Tasikmalaya. Tidak cukup do’a yang biasa diajarkan guru ngaji ketika harus mengurus negeri. Mengapa? Sebab khawatir, para penjaga langit tersenyum mendengar lantunan do’a untuk kemajuan negeri. Bukan berarti do’a tidak penting. Tetapi do’a adalah jalan akhir ketika proses kemanusiaan telah ditempuh.

Islam mengajarkan do’a, persis seperti apa yang dilakukan Ibrahim dan Isma’il. Bermunajat kepada Tuhan saat Ka’bah berhasil mereka berdua bangun. Pastas Ibrahim berdo’a ketika Ka’bah itu selesai.

Mengapa? Karena di negeri yang gersang, jauh dari air dan tanaman itu, atas perintah Tuhan, di situ justru Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk membangun Ka’bah. Keduanya, terus bersusah payah membangun sebuah Masjid [Ka’bah] tanpa pertolongan siapapun.

Saat akan membangun Ka’bah dan saat proses pembangunan itu dilakukan, berdasarkan ayat al Quur’an, tidak terekam sedikitpun Ibrahim berdo’a. Ia hanya berdo’a justru ketika Ka’bah itu selesai dibangun. Ibrahim dan Ismail menengadahkan kedua tangannya, melantunkan sebuah do’a: Rabbana taqabbal minna innaka anta sami’ul alim.

Bangun dulu. Selesaikan pembangunan. Baru angkat tangan untuk berdo’a dan memasrahkan semua pekerjaan kita kepada Tuhan. Agar apa yang kita lakukan menjadi bagian dari cara kita bersyukur kepada-Nya.

Membangun Jalan Pintu Membentuk Shirat al Mustaqiem

Membangun jalan adalah pintu dan cara kita sebagai manusia, untuk meletakkan shirat al mustaqiem. Karena itu, hanya daerah yang memiliki jalan yang baiklah, yang akan mampu membangun negeri yang makmur. Sebuah negeri tidak mungkin makmur, kalau jalannya berkelok, apalagi penuh dengan lubang-lubang yang terjal.

Daulah Islamiyah menjadi adikuasa dunia pertama, lahir ketika Umar bin Khatab menjadi khalifah kedua setelah Abu Bakar. Mengapa dia menjadi adikuasa mengalahkan dua adikuasa lain yakni Bizantium dan Romawi. Jawabannya, ternyata yang paling fenomenal adalah, kemampuan Umar bin Khatab membangun jalan yang halus dan lebar.

Di pinggir-pinggir jalan selalu menyala lampu ketika malam tiba. Masyarakat Barat dan Eropa belajar bagaimana sebuah transportasi dibangun Khalifah pemberani ini. Barat tidak mampu membedakan mana siang dan kapan malam tiba.

Hari ini banyak santri yang telah belajar sejarah Islam menjadi penguasa. Baik pada skala nasional maupun regional. Hanya sayang, hampir tidak ada di antara para santri itu, yang memiliki kemampuan minimal mendekati sosok Umar bin Kahatab.

Karena itu, wajar jika kebanyakan para rantau Tasikmalaya yang kebanyakan santri itu bertanya, betulkah UU Ruzhanul Ulum akan naik menjadi Gubernur. Bagaimana dengan nasib jalan-jalan desa yang pelum pernah dia sentuh.

Dikenallah oleh para rantau Tasikmalaya bahwa Kabupaten ini memiliki Viral Jalan Seribu Lubang, (#tasikmalayasejutalubang / #jalanseriubulubang). Di sinilah, tampaknya perlu perenungan ulang. By. Lyceum Indonesia

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar