Visi, Misi dan Target Pondok Pesantren

0 486

Di awal berdirinya, pesantren memiliki visi, misi dan target dalam pelaksanaan pondok pesantren. Visi pesantren, secara umum adalah memasyarakatkan kehidupan beragama yang harmonis dan humanis sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits.

Sedangkan misi pesantren adalah mencetak santri yang siap terjun ke masyarakat untuk mengembangkan agama Islam dengan metode menjaga pendapat para ulama terdahulu dan mengambil dari penemuan para ulama sekarang bila pendapat mereka lebih baik dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Hal ini sesuai dengan kaidah yang sangat populer di kalangan pesantren yang berbunyi; al-muhafadzah ‘ala al qadim al-shalih wa al akhdu bi al-jadidi al-ashlah.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan lembaga sosial keagamaan yang pengasuhnya juga menjadi pemimpin ummat serta sebagai rujukan legitimasi terhadap warganya, tentu mempunyai dasar pijakan keagamaan dalam melakukan tindakannya terutama jika itu dianggap baru oleh masyarakatnya.

Hal tersebut karena watak pimpinan keagamaan dan masyarakat pendukungnya yang “fiqh oriented” dalam memandang suatu permasalahan dalam pola hitam putih atau salah benar menurut hukum Islam.

Salah satu kegiatan dalam komunitas pesantren adalah pengembangan masyarakat (society development), di samping misi utamanya dalam bidang pendidikan keagamaan. Pengembangan masyarakat yang selama ini dilakukan oleh pesantren memang masih bersifat sporadis dan belum melembaga di seluruh pesantren.

Namun demikian tidak berarti menegasikan pesan pesantren dalam mengembangkan masyarakat. Sebab pada kenyataannya masyarakat pesantren dan masyarakat umum yang di lingkungannya adalah saling memberi dan mengambil manfaat.

Target Pelaksanaan Pendidikan Pondok Pesantren

Tujuan yang menjadi target pelaksanaan pendidikan pesantren terbagi menjadi dua, yaitu target jangka pendek dan target jangka panjang. Target jangka pendek pesantren adalah mencetak santri yang tangguh dan handal dalam menyebarkan atau menyampaikan pesan-pesan agama kepada masyarakat.

Sedangkan target jangka panjangnya adalah menciptakan masyarakat yang agamis, harmonis dan humanis sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan Sunah Rasul. Oleh karena itu, tidak salah jika disebutkan bahwa pendidikan utama pesantren selain elaborasi nilai-nilai keagamaan, juga menjadi tempat untuk membentuk jiwa sosial santri.

Jiwa sosial dapat juga terbentuk dengan banyaknya wawasan-wawasan kemasyarakatan yang dimiliki seseorang. Hal tersebut diperoleh dengan cara belajar, baik langsung maupun secara tidak langsung. Ikatan sosial yang dimiliki oleh setiap kesatuan merupakan suatu lingkungan yang terbatas dengan wilayah yang jelas. Sehingga interaksi sosial yang berlangsung memiliki frekuensi tinggi dengan hidup masyarakat setempat (komunitas) yang berbeda-beda. Tetapi pada dasarnya sama karena ikatan tersebut merupakan suatu usaha untuk mengintegrasikan setiap warga atau anggotanya kedalam sebuah kelompok sosial dimana mereka tinggal.

Perbedaan Ikatan Sosial Masyarakat

Perbedaan ikatan sosial pada kesatuan hidup masyarakat setempat menurut Wuradji, yaitu:

  1. Residenci community atau ecological community dimana faktor pengikat yang terpenting bagi anggotanya adalah wilayah tempat tinggal tertentu. Maka ikatan tempat tinggal tersebut didasarkan pada hubungan sosial.
  2. Moral community atau psyhyc community dimana ikatan antara para anggotanya didasarkan pada faktor spiritual yang mencakup nilai asal-usul atau kepercayaan.

Situasi sosial adalah kondisi yang merupakan akumulasi dari proses interaksi sosial dan komunikasi antar unsur yang terdapat di dalam sebuah komunitas masyarakat. Situasi sosial meliputi, sifat, karakteristik, dan geografis sebuah komunitas masyarakat. kondisi ini merupakan faktor yang mempengaruhi terbentuknya jiwa sosial seseorang.

Proses-proses sosial adalah perilaku yang mendasar dari sekelompok masyarakat yang ingin bersama untuk mewujudkan suatu wadah atau lembaga sosial untuk mencapai tujuan bersama. Yaitu pembagian kerja, pembentukan lembaga swadaya masyarakat, kerja sama kelompok, persaingan, pertentangan, rasa kagum, rasa bangga dan lain-lain. ***H. Edeng Z.A

Bahan Bacaan

Nurcholish Madjid. Bilik-bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina, 1997.

Wuraji. Sosiologi Pendidikan Sebuah Pendekatan Sosio-Antropolog. Cetakan Pertama, Jakarta: Dirjen PT-PPLPTK, 1988. hlm. 30.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.