Wafatnya Pak Dody | Novel Selendang Pemikat Rasa Part-3

0 15

Wafatnya Pak Dody. Kala itu, kamis sore tepat pukul 17.30 Hans mendapatkan kabar meninggalnya pak Dodi dari istrinya. Betapa terpukul dan sangat bersedih hati Hans atas kepergian bapak angkatnya itu, orang yang telah berjasa membuat Hans menjadi “Raja Cinta” diantara wanita. Air mata mengalir deras di pipi Hans kala mendengar kabar itu. Segera Hans pacu sepeda motornya menuju rumah pak Dodi yang sudah dipenuhi pelayat yang menyatakan belasungkawa. Segera ia peluk ibu Venny (istri pak Dodi).

Bunda yang sabar yaaa buuunn, kita berdoa aja semoga Ayah mendapatkan tempat terindah di sisi Allah dan diampuni segala dosanya”, bisik Hans di telinga ibu Venny sambil terbata-bata. Kemudian ia mendkati Ade, Ade yang kuat ya sayang, ayah telah pergi dengan tenang, ujar Hans pada Ade sambil memeluknya erat. Suasana diruangan itu tampak penuh haru, lantunan surat Yaasin meneduhkan duka keluarga yang ditinggalkan. Jenazah pak Dodi tidak dikebumikan hari itu, karena hari menjelang petang dan menunggu kedatangan sanak saudara yang berada diluar kota. Hans mendekati jenazah pak Dodi dan tidak beranjak dari ruangan itu sambil terus melantunkan surat Yaasin sampai pagi menjelang. Setelah sanak saudara sudah berkumpul semua, kemudian keesokan harinya jenazah pak Dodi dikebumikan tidak jauh dari rumahnya diiringi tahlil dan isak tangis keluarga, saudara dan kerabat yang mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Doa-doa indah pun dipanjatkan untuk almarhum pak dodi sebelum meninggalkannya sendiri dalam kubur.

Pak Dodi adalah bapak angkat yang Hans kenal sejak masa SMA. Sifatnya yang baik hati, ramah dan dermawan menjadikan pak Dodi sosok ayah yang dicintai siswa SMA kala itu. Kantinnya selalu ramai saat jam istrihat maupun waktu-waktu senggang. Para siswa merasa nyaman jika makan/nongkrong dikantin pak Dodi. Bahkan jika ada siswa yang kehabisan uang untuk jajan, pak Dodi tak segan-segan untuk memberikan makanan/minuman secara gratis. Hingga akhirnya pak Dodi mengangkat Hans sebagai anaknya karena Hans baik dan sayang terhadap Ade (anak pak Dodi) yang kala itu masih duduk dibangku sekolah TK. Tapi kini semuanya hanya sebuah kenangan yang terindah.

Selepas kepergian pak Dodi, Hans selalu terngiang perkataannya agar tidak menyalahgunakan ajian selendang biru untuk hal yang negatif. “kenapa ya ayah berkata demikian? bukankah ajian itu untuk menaklukkan cewe siapa aja ?”, gumam Hans dalam hati. Berkat ajian itu Hans bisa mendapatkan cinta Sophia yang dibuatnya bertekuk lutut tergila-gila dan cinta mati pada Hans.

Seiring perjalanan cinta Hans bersama Sophia, selalu ada pertengkaran diantara keduanya meskipun berujung rindu dan sayang kembali. Sophia selalu marah-marah jika Hans terlambat membalas BBM atau mengangkat telepon darinya. Setiap hari juga Sophia meyuruh Hans menjemputnya untuk berangkat ke kantor bersama. Lama kelamaan Hans menjadi kurang suka dengan perlakuan Sophia pada Hans yang dianggap seperti pembantunya. Hingga pada akhirnya Hans berniat untuk mengakhiri hubungan cinta dengan Sophia yang telah dipacarinya selama 2 bulan.

15 Menit

Malam itu Hans mengajak Sophia untuk ketemuan disebuah cafe, dan Sophia menyetujuinya tanpa ada perasaan curiga sedikitpun kepada Hans. Berangkatlah Hans lebih dulu menuju cafe yang telah dtentukan. Sementara itu Sophia pergi sendiri tanpa dijemput Hans. Hans datang lebih dulu dari Sophia, kemudian ia memesan minuman dan duduk santai menunggu Sophia. Setelah menunggu 15 menit, Sophia pun datang dengan sedan putihnya. “Hai Hans sudah lama menunggu ?”, sapa Sophia sambil tersenyum. Hans pun mempersilahkan sophia duduk dan menyodorkan menu cafe tersebut, lalu Sophia memesan minuman. “Duduk dulu, baru kita ngobrol, aku baru 15 menit kok disini”, jawab Hans santai.

Sophia terlihat bingung dengan ajakan Hans yang tiba-tiba. “Kamu kok tumben ngajak ketemuan tiba-tiba begini hans?”, tanya Sophia penuh heran. Hans tersenyum mendengar pertanyaan Sophia dan menjawabnya, “Gak papa kok say, lagi pengen aja.” Sementara itu minuman pesanan Sophia telah disajikan. Hans menatap sekeliling cafe sambil sesekali beradu pandang dengan Sophia. Suasana cafe tampak ramai dengan banyaknya muda-mudi yang datang membawa pasangan. Sementara itu tepat di depan tempat duduk Hans, pemain musik tengah memainkan lagu-lagu cinta membuat suasana malam itu semakin hangat dan romantis.

Air Mata Menetes di Pipi

Sambil menghela nafas dalam-dalam, Hans memberikan diri untuk mengutarakan niatnya memutuskan hubungan cinta dengan sophia. Neeeeng…. sudah 2 bulan kita jalani hubungan ini dengan suka dan duka, banyak cerita meskipun terkadang membuatku sedih dan kecewa, tapi aku cukup senang bisa menjadi bagian perjalanan hidup neng. ujar Hans dengan wajah sedih sambil menggenggam tangan Sophia. “Neng tau maksud aku ajak ketemuan di cafe ini ? aku ingin kita jalani kehidupan masing-masing aja tanpa ada rasa diatara kita..”, ujar Hans sambil memejamkan mata dan mencium tangan sophia. Tanpa sadar air mata menetes di pipi Sophia. “Ada apa denganmu Hans ? apakah kamu sudah ada yang lain ? aku sangat mencintaimu Hans, aku gak mau kita putus begini.” Jawab Sophia sedih.

Sophia tidak mau diputuskan oleh Hans karena sophia sangat mencintai Hans. tetapi dengan berbagai alasan dan tekad bulat Hans untuk mengakhiri hubungan percintaan dengan sophia, membuat sophia menyetujui keinginan Hans yang ingin berpisah dengannya. Sophia berkali-kali menyeka matanya dengan tisue karena air mata yang mengalir mendengar setiap perkataan Hans yang mengakhiri hubungan dengannya. “Oke kalau itu keinginananmu dan membuatmu bahagia,aku setuju kita gak usah berhubungan lagi ! makasih atas semuanya !” Ujar Sophia tegas. Akhirnya malam itu kedua pasangan kekasih resmi mengakhiri hubungan percintaannya, dan mereka pergi meninggalkan cafe secara terpisah.

Ajian Selendang Biru

Setelah putus dengan Sophia, hari-hari Hans jalani seperti biasa seperti sebelum punya kekasih. Handphonenya kembali senyap tanpa ada nada dering yang selalu berbunyi setiap waktu, saat ia menjalin hubungan percintaan dengan sophia. Seminggu menjomblo membuatnya rindu untuk mempunyai kekasih baru. Hatinya bimbang untuk menggunakan ajian selendang biru lagi atau tidak untuk menaklukkan hati wanita. Hans meandangi langit yang terang dengan cahaya bulan, dan dia berkata, “Ayah…. aa boleh yaaa mengguakan ajian selendang biru lagi? aa pengen punya pacar baru lagi yah, maafin aa..”. Hans masih terngiang perkataan almarhum pak Dodi yang menyuruhnya untuk tidak mempergunakan ajian selendang biru untuk hal negatif. Tetapi keinginannya untuk segera mendapakan kekasih baru membuat Hans mengabaikan pesan almarhum pak Dodi.

Pikirannya tertuju pada Shella, gadis cantik yang dulu pernah menolak cinta Hans dan menyakiti hatinya. Shella gadis cantik dan cerdas itu sedang menjalin hubungan dengan pria yang bekerja pada sebuah Bank. Tetapi Hans tidak memikirkan hal tersebut. Baginya, wanita yang menjadi incarannya harus takluk bertekuk lutut dihadapan Hans tak peduli meskipun sudah memiliki kekasih.

Lalu kembali Hans menjalankan ritual ajian selendang biru yang sebelumnya pernah dilakukannya dalam usaha menaklukkan hati Sophia pujaan hatinya. Seperti biasa Hans menari-nari sambil melantunkan kidung jawa dan menyebut nama Shella berulang-ulang. Kala membaca ajian selendang biru, ada yang berbeda dengan yang pernah dilakukan sebelumnya. Kali ini Hans sudah menyatu dengan tarian selendang dan kidung yang dilantunkan sangat diresapinya. Gerak tubuhnya semakin gemulai dan lincah memainkan setiap gerak tarian selendang itu.

Perubahan Diri Hans

Hari pertama dilaluinya dengan sempurna tanpa ada hambatan yang berarti. Hingga hari ketiga ia berhasil menjalankan ritual dengan baik. Setelah melakukan ritual ajian selendang biru yang kedua kali, sifat Hans terlihat sedikit feminim. Ini ditandai dengan gestur tubuh dan sensitifitas akan suatu hal yang membuatnya mudah tersinggung. Pernah suatu hari pak Jaya (Bapak angkat yang seorang tentara) meledeknya. “Hans kamu kok jadi lembek gitu sih kayak krupuk kena air ! yang tegas dong jadi laki !”, ujar pak Jaya. Bukan hanya pak Jaya yang heran akan perubahan emosi dan fisik pada diri Hans, tetapi ibu angkat, andi, bahkan teman kerjanya pun memperhatikan perubahan yang terjadi pada Hans. Hans tidak mempedulikan tanggapan orang sekitar yang menilainya berubah. Karena menurutnya tidak ada yang berubah pada dirinya.

Meskipun Hans telah menjalankan ritual ajian selendang biru dengan sempurna, tetapi hal ini tidak lantas membuat hans mudah menaklukkan cinta shella. Hans menjadi penasaran karena belum berhasil mendapatkan cinta shella. Kemudian Hans berpikir untuk kembali menjalankan ritual tersebut. Dan seperti biasa Hans menjalankan ritual ajian selendang biru dengan sempurna. Hans sangat menginginkan Shella agar jadi miliknya meskipun Shella sudah memiliki kekasih. Ada misi balas dendam yang membuat Hans sangat berambisi untuk menaklukkan hati Shella. Hans telah dibutakan oleh hawa nafsu tanpa mentaati pesan dari almarhum pak Dodi agar tidak menyalahgunakan ajian selendang biru untuk hal negatif.

Cintaku adalah inginku

Apa yang menjadi inginku itu kamu

Orang lain hanya penikmat cerita

Yang tak pandai merubah kisah kita

Aku ingin kamu sebagaimana kamu inginkan dia

Butaku pada cinta tak menutup padanganku padam

#hans

 Hans benar-benar dibutakan oleh cinta, cinta yang tak semestinya ia miliki. Shella yang menjadi incarannya dipaksa bertekuk lutut mencintai Hans dengan perantara ajian selendang biru.

Baca Juga :

Selendang Pemikat Rasa Part-1 : Tarian Pertamaku

Selendang Pemikat Rasa Part-2 : Mentari Ufuk Rindu


Karya :

Penulis Adalah Dosen di STAIMA Ma’had Aly Babakan Ciwaringin Cirebon Jurusan Psikologi Pendidikan Islam dan sedang melanjutkan Program Pascasarjana di IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.