Wajah Baru Majalengka | Bandara Kertajati Siap Merangkul Dunia Global

0 1.966

Wajah Baru Majalengka – Kemajuan teknologi akan terus terjadi sepanjang pertumbuhan ilmu pengetahuan dapat terus terbarukan. IPTEK telah membuat segalanya menjadi berubah. Perubahan itu sangat terasa salah satunya di daerah yang dulu sangat sepi dan dikenal sebagai kota para pensiunan. Daerah itu kini memiliki wajah baru Majalengka. Di sisi lain, harus juga disebutkan bahwa kemajuan teknologi tidak mungkin dapat dikalahkan atau dihentikan, pun oleh legitimasi agama. Mengapa? Karena teknologi akan selalu berkembang sepanjang ilmu masih dapat ditumbuhkan, dan sepanjang manusia butuh kehidupan. Salah satu contoh produk teknologi yang terus terbarukan itu adalah teknologi transportasi. Meski banyak pihak yang menyebut bahwa, perubaha dalam teknologi transportasi relatif lambat dibandingkan dengan produk teknologi lain.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), menyebut teknologi sebagai metode ilmiah, untuk mencapai tujuan praktis ilmu pengetahuan terapan dan menjadi keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi keberlangsungan, kemudahan dan kenyamanan hidup manusia. Dengan nalar itu, teknologi akan selalu dihadirkan, karena manusia selalu butuh kemudahan. Jhon Naisbitt (2002), seorang futurolog berkebangsaan Amerika, pernah menyebut teknologi sebagai produk suatu benda, sebuah obyek, bahan dan wujud yang jelas-jelas berbeda dengan manusia, tetapi sangat dibutuhkan manusia. Ia menjadi keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi keberlangsungan dan kenyamanan hidup, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bagi manusia.

Karena itu, aksesibiliti terhadap produk teknologi, kini sudah menjadi harga mati. Dengan atau tanpa alasan, manusia, pasti akan membutuhkan teknologi. Tidak mungkin suatu bangsa disebut besar, jika, mereka tidak mampu mengakses dan mengembangkan teknologi beserta produk yang dihasilkannya. Maju mundurnya suatu bangsa, dalam kaca mata tertentu, bahkan akan sangat bergantung kepada akses, sekaligus pemanfaataan teknologi. Besar kecilnya suatu bangsa dalam peran-peran global dunia, ditentukan secara signifikan oleh seberapa besar bangsa dimaksud memiliki akses terhadap penggunaan produk teknologi.

Fakta Teknology Masakini

Fakta menunjukkan bahwa banyak negara yang wilayah dan penduduknya kecil dengan potensi SDA yang juga terbatas, ternyata memiliki daya saing yang tinggi ketika berhadapan dengan negara-negara lain, termasuk jika negera tersebut, disebut besar. Negara dengan wilayah dan penduduk kecil dengan SDA yang juga terbatas dimaksud, bahkan selalu tumbuh menjadi pioneer bangsa lain, karena mereka mampu mengakses dan mengembangkan Teknologi. Dalam konteks Asia, sebut misalnya ada negara Singapura dan Jepang atau dalam konteks Timur Tengah, terdapat negara Israil di Palestina. Tiga negara tersebut sangat kecil dengan potensi SDA yang rendah, tetapi karena mereka memiliki penguasaan terhadap teknologi, maka, negara-negara dimaksud, bahkan terkesan seperti negeri raksasa.

Teknologi adalah produk inovatif yang dicipta untuk memberi manfaat bagi hajat hidup manusia dan nilai tambah didalamnya tentu saja. Teknologi dan berbagai produknya, telah memberi harapan kepada manusia akan berbagai kemudahan dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Nilai tambah atas penguatan dan penguasaan teknologi dimaksud misalnya terukur dalam bentuk: Meningkatnya industrialisasi dan jumlah produksi dalam industri tertentu yang dikembangkan.

Konsekwensinya, maka, pertumbuhan kebutuhan tenaga kerja profesional sesuai dengan produk teknologi yang dihasilkannya menjadi demikian tinggi. Penyerapan tenaga kerja dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan semakin meningkat dengan profesi yang sangat beragam. Akibatnya, suatu wilayah yang memiliki kemampuan pengembangan teknologi, akan mendorong peningkatan jumlah investor. Sedikit banyaknya jumlah investor yang akan datang ke tempat dimaksud, didorong oleh kemampuan wilayah atau daerah tersebut dalam mengakses teknologi. Semakin besar suatu produk teknologi dikembangkan, maka, investor akan datang secara besar-besaran pula.

Korelasi langsungnya adalah meningkatnya produktivitas masyarakat beserta putaran ekonomi di lingkup masyarakat itu sendiri. Persaingan dalam dunia kerjapun akan terjadi. Pengatahuan dan keterampilan dengan sendirinya akan menjadi soko utama seseorang dalam mengkases dunia kerja. Kemajuan-kemajuan dimaksud, secara otomatis akan melahirkan putaran arus informasi yang kian dinamis dan cepat yang secara langsung dapat melancarkan bisnis dalam skala regional, nasional dan internasional.

Akses informasipun menjadi tidak lagi murni menggunakan tenaga manusia. Misalnya pengiriman data-data, dapat dilakukan lewat internet, penyampaian informasi dan berbagai bentuk kegiatan transaksional, dapat dilakukan juga melalui pemanfaatan dan penggunaan dunia maya. Kehadiran Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, dalam kamus-kamus tertentu, harus dipandang sebagai salah satu berkah, khususnya tentang bagaimana kabupaten Majalengka dapat meningkatkan produktivitas dalam berbagai segmen kehidupan masyarakatnya.

Bandara Kertajati dalam Lakon Global

Bandara kertajati terbaru
Image Sumber: bijb.co.id

Nama Bandara Internasional Kertajati, diasosiakan dengan nama suatu kecamatan di Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Kecamatan ini, kurang lebih memiliki 13 desa (Babakan, Bantarjati, Kertajati, Kertasari, Kertawinangun, Mekarjaya, Mekarmulya, Pakubeureum, Palasah, Pasiripis, Sukakerta, Sukamulya dan Sukawana). Inilah perbedaan unik. Sebab meski memang terdapat beberapa daerah yang menyebut Bandaranya dengan nama daerahnya, tetapi, mayoritas penamaan suatu bandara itu melegitimasi tokoh. Di Majalengka ternyata tidak.

Yang pasti, melalui Kertajati ini, Majalengka akan memasuki era baru. Suatu daerah yang dulu dikenal pedalaman, dengan harga tanah yang sangat murah dan akses transportasi yang sangat terbatas, harus segera mengubah mainsetnya dari penduduk pedalaman menjadi penduduk global. Daerah yang mungkin sebelumnya tidak pernah masuk dalam peta dan catatan dunia, dipaksa masuk dalam lakon baru sebagai daerah yang memancarkan budaya lokal ke dalam percaturan global. Ia akan menjadi tempat baru di mana budaya global harus hadir di satu sisi, namun, dapat menjadi sarana baru untuk mentransformasi berbagai genus lokal yang dimiliki masyarakat Majalengka, dan bahkan masyarakat Indonesia ke dalam percaturan global di sisi yang lain.

Kertajati yang sebelumnya “pedalaman” itu, kini tampil menjadi daerah utama, yang akan menjadi agen sekaligus duta besar daerah dalam megapolitan dunia. Mega Proyek Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang rencanannya akan menelan biaya sebesar 25,4 triliun rupiah, akan menjadi saksi nyata atas tampilnya Majalengka dalam percaturan dunia. Nilai rupiah sebesar itu, dipandang mampu mendirikan suatu Bandar Udara Internasional dalam luas lahan 1. 800 hektar are persegi atau setara dengan 3.600 kali lebih luas dibandingkan dengan lapangan sepak bola. Bandara ini mampu menyediakan landasan pacu (runway) pesawat sepanjang 3.500 Meter

Bandara Kertajati dalam Sejarah

Bandara Kertajati Saat ini
Image Sumber: bijb.co.id

Bandar Udara Internasional ini, peletakan batu pertamanya (ground breaking) telah dilakukan Presiden Jokowi pada 19 Januari 2016, dan diharap dapat selesai dibangun tahun 2017. Tampaknya, di akhir masa kepemimpinan Ahmad Heryawan sebagai Gubernur Jawa Barat, pembangunan Bandar Udara Internasional di Kertajati Majalengka ini tidak akan ditunda. Ini akan menjadi monumen paling bersejarah sekaligus menjadi semacam “magnum ovus” Aher dalam kapasitasnya sebagai seorang Gubernur. Sebuah monumen raksasa yang bukan saja mengabadikan lakon historisnya sebagai seorang tokoh dalam kancah politik, tetapi, sebenarnya sekaligus dapat menjadi karya nyata atas kepeduliannya untuk mentransformasi Jawa Barat ke dalam percaturan dunia.

Karena itu, secara pribadi saya sedikit memahami kalau pada akhirnya, pembangunan Bandara ini, masih tersisa adanya peluang tarik menarik antara pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sendiri. Kabar terbaru diketahui bahwa pembangunan ini dilakukan atas Joint of Venture (perusahaan patungan) PT Angkasa Pura II dan PT BIJB yang menjadi BUMD milik Jawa Barat. Meski tidak santer terdengar, Pemerintah Daerah Majalengka kabarnya diberi ruang sebagai pemilik saham dalam jumlah yang terbatas.

Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati Majalengka ini, dalam konteks tertentu, bahkan dapat menjadi semacam mercusuarnya Jawa Barat. Hal ini terlihat misalnya dari design menara air traffic center yang mirip dengan bentuk senjata tradisional khas Jawa Barat, yaitu Senjata Kujang.
Diketahui bersama bahwa masyarakat Jawa Barat yang mayoritas beretnis Sunda memiliki lambang daerah berupa gambar yang di tengahnya menampilkan senjata tradisional yang disebut kujang. Warisan budaya Sunda pramodern ini, lebih dikenal sebagai senjata, ajimat, perkakas, atau benda multifungsi dengan ragam bentuk yang menarik secara visual. Kujang dengan keragaman bentuk gaya dengan variasi-variasi struktur papatuk, waruga, mata, siih, pamor, dan sebagainya sangat artistik dan menarik untuk dicermati karena struktur bentuk tersebut belum tentu ada dalam senjata lainnya di Nusantara.

Dalam konteks budaya Sunda tadi, kehadiran Bandara ini, sekaligus dapat dipandang tepat untuk mengawetkan pola budaya yang dalam lakon tertentu disebut “sakral”, namun sudah mulai banyak dilupakan orang. Padahal, bangsa besar adalah mereka yang memiliki kepedulian dan kemampuan dalam mengawetkan pola budayanya, dan akan selalu berupaya untuk mentransformasikannya ke bangsa-bangsa lain di dunia. Bandar udara (airport) adalah fasilitas di mana pesawat terbang dapat lepas landas dan mendarat didalamnya. Area ini, umumnya dilengkapi berbagai fasilitas lain, baik untuk operator layanan penerbangan maupun bagi penggunanya seperti bangunan terminal dan hanggar. Annex dari ICAO (International Civil Aviation Organization) menyebut bandar udara sebagai area tertentu di daratan atau perairan (termasuk bangunan, instalasi dan peralatan) yang diperuntukkan baik secara keseluruhan atau sebagian untuk kedatangan, keberangkatan dan pergerakan pesawat terbang.

Bandara dan Potensi Usaha Masyarakat

Lokasi Bandara Kertajati Majelngka
Image Sumber: bijb.co.id

Namun demikian, seiring dengan perkembangan jaman, Bandara hari ini, secara umum ternyata bukan hanya berfungsi sebagai tempat untuk naik dan turunnya pesawat, tentu bersama manusia didalamnya, tetapi, kini telah menjadi tempat bagi pengembangan usaha dan perdagangan yang cukup menjanjikan. Karena itu, tidak heran jika dalam suatu Bandara, telah tersedia toko-toko pakaian, restoran, pusat kebugaran, dan butik-butik merek ternama.Bandar Udara dengan demikian, dapat disimpulkan sebagai tempat untuk meletakkan puncak kreasi teknologi tranportasi modern yang dibuat manusia.

Penyebutan Bandara Kertajati sebagai Bandar Udara Internasional, dengan sendirinya akan menyimpulkan bahwa lalu lintas manusia dan barang, akan terjadi dalam skala internasional. Umum diketahui kalau transportasi adalah alat yang berfungsi untuk memindahkan manusia atau barang dari dari satu tempat ke tempat lain. Alat dimaksud dapat berupa benda yang digerakkan manusia, binatang atau mesin. Kegiatan dimaksud dapat berupa delman, sepeda, motor, mobil, kereta api, Kapal laut dan sampai hari ini, puncaknya adalah pesawat terbang. Terminologi inilah yang membuat saya harus menyimpulkan bahwa Kertajati telah membawa Majalengka dalam arus global.

Global, hari ini sering disebut sebagai suatu era. Global telah menjadi trend temporer tentang perubahan dunia. Jika sebelumnya dunia dibelah dalam belahan-belahan yang sempit, disekat dalam satu daerah dengan daerah lain, dikutubkan dalam satu negara dengan negara lain, maka, global trend akan membongkar semua pembatas itu dengan menempatkan dunia, mungkin sebagai sebuah desa di masa lalu. Globalisasi membawa perspektif baru tentang “Dunia Tanpa Batas”.

Ia akan menjadi semacam sistem organisasi baru dalam melakukan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia dalam kaidah-kaidah yang sama, meski dalam ragam ideologi yang sangat berbeda. Akibatnya, melalui proses globalisasi ini, dunia dibikin menjadi kecil baik dari segi perhubungan, maupun dari segi budaya. Globalisasi telah membuat ragam manusia ber-interconnected dengan manusia dan dunia lain yang beragam. Itulah mengapa dalam berbagai tulisan, saya menyebut globalisasi sebagai upaya menjadikan sesuatu agar menjadi mendunia (universal) baik dalam lingkupnya maupun dalam aplikasinya.

Secara ekonomi dan sosial politik, globalisasi membawa dampak pada meningkat dan menguatnya ketergantungan satu komunitas dengan komunitas lainnya. Sebut misalnya dalam konteks ekonomi, globalisasi bukan saja telah membuat antara satu daerah dengan daerah lain menjadi tergantung, tetapi bahkan antar satu negara dengan negara lain di dunia. Hal ini ditandai salah satunya oleh meningkatnya beragam volume transaksi barang dan jasa lintas negara dan penyebaran teknologi yang meluas dan cepat di sisi yang lain.

Nama Kertajati yang sebelumnya terkesan kampungan dan mungkin hanya dikenal di Majalengka, dalam beberapa tahun ke depan, akan sangat mudah diingat dan harus dihafal masyarakat San Francisco di Amerika Serikat, karena Bandara San Francisco menulis kata Kertajati. Bandar Udara Internasional Roshchino di Rusia, Bandar Udara Internasional Frankfurt di Jerman, Bandar Udara Internasional Osaka dan Bandar Udara Internasional Tokyo di Jepang, Bandar Udara Internasional King of Abdul Aziz di Jeddah dan Bandar Udara Internasional Baiyun Guangzhou di China, dan beberapa Bandara Internasional lain di dunia, semua menulis kata Bandara Internasional Kertajati. Internasionalisasi inilah, yang bakal memberi dampak yang sangat luar biasa terhadap segala tatanan di Majalengka.

Peluang dan Implikasi Bandara Internasional Kertajati Jawa Barat

Bandara Internasional Jawa Barat
Image Sumber: bijb.co.id

Hadirnya Bandar Udara Internasional Kertajati di Majalengka, bukan hanya menjadi kepentingan Jawa Barat, apalagi hanya dalam kepentingan Majalengka. Kehadirannya harus dipandang sebagai kepentingan bangsa dan negara dengan dampak yang sangat luas dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan juga. Kita tahu jika Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, yang telah menjadi Bandara Utama Republik Indonesia sejak tahun 1985 ini, setelah posisinya menggantikan Bandara Kemayoran (yang telah ditutup) di Jakarta Pusat, dan Bandara Halim Perdanakusuma (yang telah menjadi penerbangan charter dan militer sejak tahun 1992) di Jakarta Timur, berada dalam posisi yang demikian padat. Hal ini bukan saja berdampak rumit dalam layanan jasa, tetapi juga telah menyulitkan fleksibilitas penerbangan.

Bandara Soekarno-Hatta yang memiliki luas 18 km² dengan dua landasan paralel yang dipisahkan dua taxiway sepanjang 2,4 km dengan dua bangunan terminal utama, yaitu: Terminal 1 untuk semua penerbangan domestik kecuali penerbangan yang dioperasikan Garuda Indonesia dan Terminal 2 melayani semua penerbangan internasional juga domestik oleh Garuda, hari ini terpaksa harus disebut sangat padat. Meski berbagai upaya perbaikan dalam berbagai rezim pemerintahan untuk kemudahan akses ke Bandara ini telah dilakukan, tetap saja, situasi kemacetan menuju dan dari Bandara ini, selalu terjadi.

Arus jalan darat yang melintasi dan menghubungkan berbagai tempat di Jakarta ini, karena itu dipandang tidak lagi memberi kenyamanan yang sempurna. Bahkan tidak sedikit –seperti saya alami sendiri—terpaksa tidak jadi terbang karena perhitungan waktu menuju ke arah Bandara sangat sulit dihitung. Pengaruh arus penduduk yang terus meningkat, dengan tingkat urbanisasi yang tinggi, serta kondisi Indonesia yang terus membaik dalam percaturan global, baik untuk kepentingan politik maupun untuk kepentingan bisnis, telah mengakibatkan laju tranportasi menjadi demikian rumit dan membutuhkan langkah strategis berjangka panjang. Terlebih ketika Masyarakat Ekonomi Asean ini, telah benar-benar dilakukan. Kerumitan tentu akan semakin tampak. Karena itu, diperlukan modifikasi yang relatif hemat biaya di satu sisi, dengan tingkat efek domino ekonomi yang lebih tinggi.

Penempatan Kertajati sebagai Bandara Internasional, dengan demikian, telah memberi harapan baru dalam konteks penataan ekonomi masyarakat Indonesia di satu sisi, namun keseriusan Indonesia dalam mempersiapkan inpra struktur jalur transportasi internasional di sisi lainnya. Daerah ini, terlebih hari ini ketika TOL Cipali sudah beroperasi, maka, jalur lalu lintas dari dan ke Bandara ini, dapat ditempuh masyarakat Ibu Kota Republik Indonesia dan masyarakat Jawa Barat tentu saja dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini bukan saja telah memotong jalur dan distribusi transaksi yang sering mengakibatkan kemacetan tadi, tetapi, juga dapat menjadi sebuah wahana baru dalam penataan inprastruktur yang lebih global.

Dampak Positif Pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB)

Bandara Internasional Kertajati
Image Sumber: bijb.co.id

Dalam konteks masyarakat setempat, hal ini tentu saja bukan hanya dapat membuat harga-harga tanah dan berbagai komoditas di sekitar itu menjadi meningkat, tetapi, juga kemungkinan berdirinya berbagai hotel, rumah makan, rumah-rumah mewah, berbagai mall dan aspek-aspek yang lahir karena kebutuhan kelengkapan Bandara dimaksud, yang semuanya berlabel internasional, dan itu pasti membutuhkan tenaga kerja. Sektor-sektor tadi, tentu selain kebtuhan pada apa yang terletak secara langsung dan menyatu dengan Bandara, akan mengakibatkan meningkatnya jumlah kebutuhan tenaga kerja.

Inilah dampak positif. Peningkatan kualitas penduduk setempat dalam penguasaan aspek-aspek ekonomi, dengan sendirinya akan terdongkrak. Selain itu, seperti saya gambarkan sebelumnya, akan terjadi apa yang dinamakan dengan globalisasi budaya lokal beserta produk yang terdapat didalamnya ke dalam tatanan yang lebih mengglobal. Keuntungan yang terakhir ini, tentu sipatnya berjangka panjang. Problemnya, dalam konteks masyarakat daerah, sisi positif dimaksud akan berdampak pada: Sanggupkah masyarakat dan pemerintah Daerah setempat menjadikan semua kemajuan ini, sebagai bentuk keberkahan yang dalam banyak kasus memerlukan penyiapan, khususnya dalam penyediaan SDM terlatih?

Dampak Negatif dan Solusinya

Bandara Kertajati
Image Sumber: bijb.co.id

Kalau boleh disebut sebagai sebuah masalah yang memerlukan segera dilakukan untuk melakukan pembenahan itu, menurut saya adalah: Membangun kesadaran baru akan pentingnya pendidikan sebagai soko guru sekaligus soko utama dalam pertahanan benteng sosial budaya di satu sisi, dan penyiapan tenaga kerja terdidik di sisi lainnya. Sebab, hadirnya Bandara Internasional ini, secara langsung akan menempatkan Majalengka khususnya, sebagai destinasy baru untuk masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya.

Kita tahu dengan sepenuh hati bahwa, di Majalengka baru tersedia satu Universitas (Universitas Majalengka [UNMA]) dan beberapa perguruan tinggi dan akademi. Meski harus dicatatkan bahwa satu-satunya Universitas ini, telah menggeliat khususnya dalam sepuluh tahun terakhir, dengan sejumlah dampak yang luar biasa dalam tatanan masyarakat setempat. Namun demikian, geliat ini akan semakin terasa ketika pemerintah setempat memberi porsi penting untuk pengembangan pendidikan tinggi.

Karena itu, tampaknya perlu ada gerakan massif yang bukan saja membuat PT menjadi hidup dan berkembang, tetapi, membuat mereka menjadi lebih berdaya guna dengan sokongan utama salah satunya dari Pemerintah Daerah. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah dengan pemerintah provinsi dan pusat, bahkan dengan funding luar negeri yang memiliki perhatian serius tentang pentingnya penguatan Sumber Daya Manusia, yang mampu menyediakan tenaga-tenaga terampil dan terdidik sesuai dengan kebutuhan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jika aspek SDM ini diperkuat, maka Pemerintah Daerah Majalengka dan Provinsi Jawa Barat khususnya, bersama PT itu akan berusaha mencari untuk memberi ruang kepada masyarakat setempat agar tetap memiliki asset dan sekaligus peluang usaha. Melalui PT ini misalnya, akan dilakukan pengkajian yang menyeluruh dan tepat guna, bagaimana masyarakat berpartisipasi dan sekaligus “menikmati” jerih payah pembangunan. Tujuannya, jangan sampai semua jenis-jenis produksi yang terjadi akibat hadirnya Bandara ini, hanya untuk dikuasai pihak asing. Kita tentu tidak berharap, masyarakat Majalengka dan Jawa Barat umumnya, malah tumbuh menjadi employe-employe murahan, atau bahkan mengutif Emha Ainun Nadjid (2015) sebagai jongos-jongos baru di negara sendiri.

Disadari sepenuhnya, seperti telah saya ulas diawal, kemajuan teknologi hanya mungkin diakses mereka yang terampil dan terdidik. Karena itu, polesan tentang pentingnya pembenahan di poin ke dua ini, tetap memberi ruang adanya keharusan untuk melakukan sinergi dan kolaborasi dengan penguatan dimensi-dimensi kognisi dan psikomori masyarakat melalui dunia pendidikan. Jika tidak, maka, kita sulit berharap bahwa situasi ini akan berkorelasi langsung dengan masyarakat setempat.

Last but not least, penguatan SDM ini akan menjadi benteng moral khususnya tentang bagaimana agar semua kemajuan ini, harus lebih mengoptimalkan perannya sebagai transformasi budaya –misalnya budaya majalengka dan sekitar Jawa barat ini — tentu saja dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, ke dalam lingkup global, dibandingkan dengan keharusan masyarakat melakukan adaftasi terhadap budaya global. Apa yang dilakukan Jepang dan China dalam memperkuat aspek ini, saya kira dapat menjadi salah satu contohnya. Akankah situasi itu mampu dilakukan? Mari kita buktikan dalam perjalanannya hari ini dan ke depan. Tetapi melihat dinamika yang terjadi, khususnya dalam sepuluh tahun terakhir di Majalengka, tampaknya, saya harus memiliki keyakinan bahwa persoalan-persoalan dimaksud, minimal sudah mulai diperhatikan secara serius oleh pemerintah setempat. Demikian, semoga ada manfaatnya. Amiin …… Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.