Wajah Buram Kabupaten Tasikmalaya

0 24

Wajah Buram Kabupaten Tasikmalaya. masih terus membayangi. Kabupaten ini tetap belum bisa bangkit. Dari dulu, sampai hari ini, tetap saja menjadi kabupaten yang plus minus terbelakang. Capaian nilai income perkapita penduduk selalu rendah.  Jauh dari harapan ideal sebagai sebuah daerah yang mengharuskan dirinya berada setidaknya sejajar dengan kabupaten lain yang ada di sekitarnya. Kabupaten ini, bukan saja kalah oleh Kota Tasikmalaya, tetapi, bahkan tertinggal jauh oleh kabupaten Pangandaran yang baru depinitif –sebagai kabupaten– dalam beberapa tahun terakhir setelah memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis.

Sejarah Buramnya Kabupaten Tasikmalaya

Buramnya pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya, secara historis dapat dilacak dari pergerakan dan pergolakan politik Islam dalam konstelasi politik nasional. Entah dengan alasan apa, fakta menunjukkan bahwa, Kabupaten ini sempat menjadi tempat di mana Negara Islam Indonesia (NII) dideklarasikan. Deklarasi NII dalam sebuah konsep yang disebut Dar al Islam (DI) di Gunung Galunggung oleh Kartosuwiryo –jelas bukan orang priangan–, sebagiannya mungkin telah menyisakan luka ideologi negara, yang akhirnya telah ditempatkan sebagai daerah dengan pertimbangan khusus dalam konteks pembangunan tadi.

Hal ini, akan memperoleh pembuktian, ketika pemerintahan Orde Baru, menjalankan sistem pemerintahan yang sangat sentralistik dan sedikit memberi ruang akan pertumbuhan daerah. Secara faktual, meski dalam konteks ini, masih memerlukan mendalam, kecenderungan rakyat akan apa yang disebut dengan partai Islam –waktu itu PPP– tetap dianggap sebagai wadah pemikiran dan aksi politik Islam yang mengakibatkan dalam perpektif pejoratif, pemerintah Orde Baru, tampaknya masih menjadikan kabupaten ini dalam perpektif khusus.

Patut diduga, perbedaan ideo politik masyarakat setempat yang berbeda dengan ideologi pemerintah pusat, telah mengakibatkan lambannya pembangunan. Hal ini diperparah karena sistem pemerintahan yang sangat sentralistik. dengan Golkar sebagai lokomoif utama –sementara Tasikmalaya berada dalam mainstrem yang berbeda, telah menyebabkan pembangunan di daerah cenderung diabaikan. Dalam keakuan dan “keangkuhan”-nya sendiri, masyarakat di Kabupaten ini, tetap saja berada dalam posisi kuat mempertahankan ideo politik yang dianutnya. Jadilah, kabupaten ini tetap terbelakang sekalipun rezim Soeharto yang mengideologisasi pembangunan itu dilakukan.

Buramnya Kabupaten Tasikmalaya seharusnya Berubah

Ketika reformasi 1998 berlangsung, dan kebebasan berpolitik terjadi serta terbuka luas, maka, seharusnya, keburaman kabupaten Tasikmalaya juga berakhir. Fakta ternyata tidak demikian! Kabupaten yang identik dengan sebutan kaum santri ini, ternyata tidak mampu menunjukkan jati diri ideo politiknya secara natural dan elegan dalam lakon politik kaum Muslim yang seharusnya dekat dengan masyarakat. Namun apa yang terjadi? Orde Reformasi yang berhasil menampilkan para “pemimpin Muslim”, dan ditahbiskan taat itu, ternyata tidak mampu menunjukkan watak dasar pemimpin Muslim yang takdzim pada kekuatan dan kepentingan rakyat yang dipimpinnya.

Keterbelakangan masih saja terjadi. Hal ini ditujukan secara kasat mata dari pembangunan inpra struktur yang masih sangat lemah. Indikatornya terlihat dari minimnya jalan yang licin dan beraspal. Jalan-jalan yang buruk ini, bukan hanya terdapat pada daerah-daerah pinggiran, tetapi bahkan pada jalan yang secara natur mengharuskan untuk terus berada dalam kebaikannya karena volume kendaraan dan populasi penduduk yang terus meningkat. Coba kalau kita berjalan-jalan melakukan adventure ke daerah Tasikmalaya Selatan, mulai dari Sukaraja, Salopa, Cikatomas, Pancatengah, Cikalong, Pamijahan, Cipatujah dan sebagian besar daerah lain di Tasikmalaya  Selatan, keburaman itu sangat massif dan nyata.

Belum kalau berbicara pada soal inpra struktut pertanian. Kita hampir sulit menemukan adanya pengelolaan irigasi dan penempatan tata letak pertanian yang hasilnya sangat dibutuhkan bukan saja oleh masyarakat, tetapi, bahkan oleh pemerintah itu sendiri. Padahal jika dilihat dari potensi ekonomi, kabupaten ini, sesungguhnya menimbun kekayaan alami yang sangat mnggiurkan. Ambil misalnya contoh wisata mulai dari wisata religi seperti Pamijahan yang memiliki makam Syekh Abdul Muhyi sampai kepada wisata pantai seperti pantai Cakalong, Cipatujah dan Pamayang.

Hal ini, akan semakin menarik ketika perhatian ditujukan kepada bidang pertanian dan perkebunan. Bukan saja daerah ini menyimpan kekayaan dalam bentuk luasnya sawah, tetapi juga tersedianya perkebunan yang melimpah. Tanaman seperti Sawo, rambutan, Jeruk, Kelapa dan tumbuhan palawija lainnya, luar biasa banyaknya. Potensi ini jika dikembangkan dengan baik, maka, sangat mungkin bahkan menjadi percontohan pada kelas nasional.

Faktor Buramnya Kabupaten Tasikmalaya

Terdapat beberapa faktor yang menjadi sebab mengapa kabupaten ini masih buram. Di antara sekian faktor itu, terlihat dari: 1). Soal kepemimpinan yang tidak teruji dalam konteks pertimbangan kematangan memimpin. Kemenangan yang diraih selama empat periode, lebih karena ideologi masyarakat masih mengimaginasi bahwa tokoh yang ditahbiskan Muslim, bersipat “wajib” dipilih dibandingkan dengan pertimbangan keahlian; 2). Kuatnya budaya koorporasi yang tipis persentuhannya dengan budaya profesionalisme, meski dalam kontek pembangunan tidak teruji. Dalam konteks ini, beberapa informasi mengabarkan bahwa, sangat naif perjalanan pembangunan di kabupaten ini. Hanya cukup disayangkan, agak sulit juga melahirkan para kritikus membangun yang menyadarkan budaya koorporasi tadi dalam lingkup pemerintahan, dan; 3). Sangat mungkin wilayah kekuasaan yang terlalu luas yang berujung pada keharusannya untuk melakukan pemekaran, minimal untuk satu kabupaten baru.

Penulis akhirnya, sadar bahwa hanya dengan budaya profesionalisme, sesungguhnya kemungkinan kabupaten ini berubah. Dalam konteks tertentu, seharusnya, masyarakat sadar dan pemerintah juga memiliki kepekaan, bahwa apa yang terjadi di daerah ini, dapat menjadi bom waktu yang tidak produktif, jika tidak segera dilakukan pembenahan dalam berbagai sisi.***Lyceum Indonesia

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.