Inspirasi Tanpa Batas

Wajah Dunia Islam Saat al Ghazali Lahir dalam Sosok Intelektual Muslim Part-2

Al Ghazali Hujjatul Islam dalam Sosok Intelektual Muslim Part-2
0 48

Nama lengkap al Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy Syafi’i. Nama ini, biasa dikenal dengan sebutan al Ghazali. Saat dia lahir, berbagai bacaan sejarah menunjukkan bahwa, setidaknya ada dua wajah atau kondisi yang sedikit banyak berbeda dengan jaman sebelum dirinya lahir. Kedua situasi dunia Islam itu adalah kemunduran filsafat dan kejatuhan rasionalisme Mu’yazilah

Tulisan ini akan mengkaji bagaimana Mu’tazilah yang menjadi madzhab resmi negara, tiba-tiba mengalami kehancuran. Bagian tertentu dalam tulisan ini, juga akan menjelaskan kondisi sosial politik dunia Islam, sehingga bagaimana al Ghazali mengembangkan pemikirannya.

Kemunduran Filsafat dan Rasionalisme Mu’tazilah

Saat al Ghazali lahir (1058 M), dunia Islam sedang mengalami kemunduran dalam soal pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini ditandai dengan setidaknya dua isyarat berbeda, yakni: bagaimana ilmu tetap dikembangkan, hanya saja hasilnya harus selalu mampu mengembangkan dan menjadi daya bagi pengembangan konsep theology ahlu Sunnah wa al jama’ah. Hal ini, terjadi karena dalam beberapa waktu sebelumnya, khilafah Islam, baru saja menetapkan ahlu Sunnah sebagai madzhab resmi negara, dengan menggantikan kedudukan mu’tazilah sebagai madzhab resmi negara sebelumnya. Inilah masa di mana Filsafat dan Madzhab Mu’tazilah dianggap berbahaya dalam konteks theology Islam bagi kepetingan masyarakat Muslim. Karena itu, pemikiran dan madzhab teologi ini, harus dijadikan sebagai musuh bersama.

Jika sebelumnya, dunia Islam menetapkan satu madzhab resmi negara, yakni Mu’tazilah, maka, setelah periode keemasan dinasti bani Abbas ini berakhir, dunia Islam malah menetapkan madzhab resmi baru bernama ahlu sunnah wa al jama’ah yang salah satunya dinakhodai oleh Ahmad ibnu Hanbal. Pergantian ini, telah menyebabkan benturan baru di satu sisi, dan di sisi lainnya ada upaya pemberangusan terhadap kekebasan masyarakat Muslim untuk mengembangkan pemikiran bebas sebagaimana telah dipragmentasi dalam madzhab Mu’tazilah, yang memang menjunjung tinggi rasionalisme.

Pertikaian Politik dan Golongan

Dunia Islam saat di mana al Ghazali bertumbuh dan berkembang, sedang dipimpin Dinasti bani Saljuk. Dinasti ini mengalami masa puncak, khususnya ketika dipimpin Nizham al Mulk (1063-1096 M). kita tahu bahwa di era ini, dinati bani Abbas –yang sudah mulai lemah, telah membuat semacam kesultanan yang bersipat independen termasuk terhadap khilafah. Salah satu kesultanan itu adalah Dinasti bani Saljuk. Saat bani Saljuk ini berkuasa, al Ghazali lahir.

Dinasti bani Saljuk mengalami masa puncak kejayaan, ketika wajirnya dipegang Nizham al Mulk. Hanya saja, dinasti ini, selalu mengalami gangguan politik, khususnya dari gerakan bathiniyah, suatu sekte dari dinati Fatimiyah di Mesir. Kita tahu, bahwa pada abad-abad ini, umat Islam sedang menghadapi situasi pelik, salah satunya karena khilafah Islamiyah telah terbagi dalam beberapa kerajaan kecil, dan satu sama lain sering kali sering saling mengalahkan. Ini juga yang menimpa bani Saljuk yang tidak pernah berhenti diganggu Hasan al-Shabah, pemimpin sekte kecil yang ke luar daru dinasti fatimiyah di Mesir. Kelompok inilah yang tidak pernah segan membunuh para pemikir, intelektual dan penguasa dunia Islam. Salah satu yang terbunuh oleh sekte ini adalah Nizham al Mulk (1092 M) yang memiliki pengaruh besar atas intekektulisme al Ghazali.

Madzhab dalam Dunia Islam

Era di mana al Ghazali tumbuh, dunia Islam sedang dihinggapi berbagai perbedaan madzhab, baik fiqih, theology maupun filsafat dan tasawuf. Perbedaan ini, seringkali masuk dalam ranah yang cukup pelik, karena dunia Islam sering terpecah satu sama yang lainnya.  Dalam koteks fiqih, yang berkembang saat itu adalah pemikiran Asy Syafi’i sedangkan dalam konteks theology adalah madzhab Asy’ari. Kedua bentuk madzhab ini, kebetulan dipegang erat oleh Nidzam al Mulk dan dijadikan sandaran dalam menetapkan segala dinamika pemerintahan.

Untuk melanggengkan madzhab fiqih dan theology ini, Nidzam al Mulk mendirikan sekolah yang diberi nama Madrasah Nizamiyah. Di sekolah ini, madzhab Syafi’i  (dalam konteks fiqih) dan Asy’ari (dalam konteks theology) sangat leluasa mengajarkan doktrin-doktrin yang mereka miliki. Untuk dan dengan kepentingan pendidikan ini, tidak kurang daru 600.000 dinar emas harus dikeluarkan setiap tahun. Di sekolah inilah al Ghazali bukan hanya hanya sekedar mengenyam pendidikan, tetapi, juga kelak mengembangkan ilmunya.

Karena situasi semacam itu, pantas jika kemudian madzhab yang dianut al Ghazali itu sunni dan mengapa ia sedikit banyak mengambil sikap berbeda dalam mencermati dinamika filsafat yang sebelumnya sangat berkembang pesat. ** Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...