Warna Warni Pelangi, Siapakah Yang Menemukan Teorinya?

0 436

Kekuasaaan Allah yang sering kita temui salah satunya adalah pelangi. Pelangi menjadi momen-momen yang sangat dinanti oleh kebanyakan orang, keindahannya mampu mengispirasi berbagai hal. Kita sering menantikan keunculannya ketika hujan reda, menikmati warnanya yang indah dengan suasana yang berbeda menjadi kesan tersendiri dan menjadi makna tersendiri atas keesaan Allah bagi orang-orang yang berpikir.

Pelangi merupakan fenomena optik yang terjadi ketika matahari muncul setelah hujan kemudian sinar matahari tersebut menimpa butir air yang berada di udara. Pelangi adalah cahaya yang beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Pelangi nampak seperti busur cahaya dengan ujung yang mengarah pada horizon saat hujan dan bisa juga ditemukan disekitar air terjun yang deras.

Pelangi berbentuk lingkaran jika dilihat dari titik pandang yang tinggi, misalnya dari pesawat terbang. Hanya saja karena keterbatasan pandangan kita menjadikan bentuknya nampak seperti busur pada permukaan bumi.

Al-Hassan Ibnu Al-Haitsam Pencetus Teori Pelangi

Pada dasarnya cahaya matahari yang berwarna putih. Namun,  yang nampak adalah perpaduan berbagai warna atau disebut juga cahaya polikromatik dengan panjang gelombang yang berbeda. Dari sekian banyak warna yang ada, mata manusia hanya mampu menyerap tujuh warna dari cahaya matahari yaitu yang nampak pada pelangi. Warna-warna pelangi adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Sinar matahari tersebut diuraikan oleh air hujan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Q.S Al- Faatir ayat 27. Selalu ada penjelasan dan hikmah dalam AL-Qur’an.

Salah satu pencetus teori pelangi adalah Al-Hassan Ibnu al-Haitsam (965 M-1040 M) yang juga menemukan teori pembiasan cahaya. Belaiu adalah seorang fisikawan yang populer dibidang optik, teori beliau digunakan oleh ilmuwan-ilmuwan modern.

Hikmah yang dapat diambil ari pelangi dengan segala keindahannya mampu menunjukkan kekhasannya masing-masing di alam semesta.  Yaitu, menjadikan suatu kebersamaan yang harmonis dalam perberbedaan. keberbedaan tidak menjadikan salah satu dari keberbedaan itu menonjol, saling mengalahkan, atau penyeragaman. Melainkan setiap keberbedaan memiliki kelebihan tersendiri yang kesemuanya saling melengkapi dan saling menguatkan.***Mozzarela

Komentar
Memuat...