Home » Sastra Budaya » Budaya » “Watu Celek”Ambisi Kekuasaan Datuk Pardun

Share This Post

Budaya

“Watu Celek”Ambisi Kekuasaan Datuk Pardun

Watu Celek, nama itu mungkin sudah tidak asing lagi bagi warga Cirebon dan sekitarnya, dan bahkan sudah banyak artikel di media online yang membahas tentang keberadaan Watu Celek tersebut. Batu unik (Watu Celek)  itu kini disemayamkan di pojok Kampung Kramat (sbeleh selatan Bank BJB, Jl. Siliwangi Cirebon) dengan disemen secara kekar.

//Seja ngaruh ing salunggu / Yusup Ratu Pakungwati / Nenggè iingkang ngapsara/….tuk Pardun / Sugi sakti ninga tegu…/ sampun satata shedhemit//

//Mulanè seja ngangaru / Dumè  gurunè alalis / Wong Cerbon kang ngmrajaya // seja mangka angayoni / Dènya njajal tanpa rowang / ngadiraken raga sakti //

//Éstu teguh gumalutung / Tanana braja netesi / Pareng nami kasamana / Panembahan Pakungwati /  Karsa ngunjung ming astana / upacara dipun wangning//

// Marapit miwa panglajur tenga kacarita / Angadeg pupucuking ngupacara / Wus anganti ka anèng margi / Bebeneran waringin jambrak / Panembahan dèrèng mijil//

// Ora ganti Datuk Pardun/ Angadeg amalang ketik / Gègèr sikwula bala / Yèn nana digja ngranohi //


Datuk Pardun bertekad untuk membalaskan dendam kepada Pakungwati, karena gurunya telah mati yang disebabkan telah dibunuh orang Cirebon. Oleh karenanya ia hendak menantang secara pribadi tanpa bantuan teman dengan mengandalkan  kesaktiannya.

Ia benar-benar kebal hingga tak ada benda tajam yang dapat melukainya.  Pada saat itu kebetulan Panembahan Pakungwati hendak berziarah ke astana, oleh karena  itu acarapun segera dipersiapkan.

Dengan diapit oleh barisan para abdi,  berjejer sampai ke tempat upacara. Seseorang telah menunggu di perjalanan, dengan mengawas-awasi di bawah pohon beringin,  namun Panembahan yang ditunggunya belum muncul juga.

Kemudian Datuk Pardun berdiri berkacak pinggang menghadang di tengah-tengah jalan yang akan dilalui Panembahan.  Maka gegerlah kawula bala, karena  terdengar ada orang yang berani menghadang Panembahan. (Naskah Keraton Kacirebonan, editor Muhamad Mukhtar Zaedin dan Panji Darussalam, deepublish, 2002).

Datuk Pardun dianggap sebagai sosok pendendam dan haus kekuasaan, sama seeperti guru dan kakeknya. Karena itu,  menurut Oppan ia digambarkan melalui “celek”  (kelamin lelaki yang tengah ereksi).

Rekomendasi untuk anda !!   Falsafah Silih Asah Silih Asih Silih Asuh Solusi Membebaskan Manusia

Siapa Datuk Pardun?  Ia tak  lain adalah seorang murid Syekh Siti Jenar (Lemahabang) salah seorang wali yang membelot dari kewaliannya, karena ingin merebut pemerintahan Kesultanan Demak dan Cirebon. Filolog Oppan Raffan Hasyim, lebih tegas, Datuk Pardun adalah cucu dari Lemahabang.

Budayawan T.D. Sudjana (almarhum) pernah  memberikan keterangan kepada  penulis, bahwa pematungnya bergelar Pangeran  Arya  Wira  Celek. Tidak  diketahui siapa nama aslinya. Seniman yang  menurutnya, masih  keturunan Kesultanan Cirebon  itu rupanya ingin  mengekspresikan rasa  seninya dengan simbol kegagahan seorang  pria. “Itu  terjadi kira-kira tahun  1700an,” kata  T.D. Sudjana saat  itu.

Pada sisi kanan “watu celek”, terdapat sebuah makam kuno yang telah dipugar, diduga makam tersebut merupakan seniman pembuat patung tersebut. Dalam  tradisi Cirebon,pengekspresian  jenis kelamin dengan  simbol tertentu,  bukanlah hal yang asing. Istilah “Lingga” dan  “Yoni” adalah simbol seksualitas antara  pria dan  wanita. Demikian juga simbol ereksi lelaki seringkali disebut “lingga binangkit”, artinya bangkitnya  nafsu  seksual terhadap lawan jenisnya.

Rekomendasi untuk anda !!   Awal Kerajaan Cirebon

Gambaran “lingga dan yoni” bukan merupakan hal baru. Dalam berbagai tutur masyarakat, dua gambaran kelamin manusia itu selalu diceritakan pada dunia pewayangan. Maklum, dunia pewayangan kita tak bisa lepas dari kisah-kisah yang dibawa pada masa Hindu. Gambaran lingga yang cukup vulgar ada pada “watu celek” yang saat ini dipakukan di daerah Kramat Kota Cirebon. Di samping itu gambaran lingga-yoni pun nampak pada artefak “lumpang dan alu”  bekas alat penumbuk  terasi-petis pada masa era awal Islam di Cirebon.

Persoalan lawan jenis, antara lelaki dan perempuan sudah ada sejak manusia ini ada di muka bumi. Allah menciptakan Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa (Eva) sebagai pasangan hidupnya. Keduanya kemudian beranak pinak ke seluruh bumi, setelah mereka berhubungan melalui lingga-yoni´ sebagai wahana hubungan seksual. Diduga dari penafsiran ini melahirkan simbol-simbol lelaki dan perempuan. Dalam pandangan berbeda, birahi terhadap kekuasaan seringkali ditunjukkan pada ereksi kejantanan. *** Nurdin M Noer

Share This Post

1 Comment

  1. lyceum

    Banyak pihak berbicara kepada saya bahwa, aneka ragam tulisan bang Nurdin M. Noor yang menjadi banyak guru wartawan di Cirebon, bukan hanya sekedar memberi tahu sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui banyak pihak, tetapi, menggugah kesadaran akan peta sejarah manusia dan peradabannya di masa lalu. Saya secara pribadi sangat senang karena bukan saja beliau guru kami, tetapi, tulisannya begitu mengalir dan datar. Semoga beliau selalu sehat dan diberi kekuatan untuk terus menuangkan segenap pikirannya bagi kami yang masih muda.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>