Yahudi versus Islam di Tanah Para Nabi

0 71

Yahudi versus Islam. Watak keras masyarakat Timur Tengah, akan terlihat dalam bentuknya yang vulgar, ketika Israel dan Palestina terus berebut wilayah kekuasaan. Suatu wilayah sempit yang melahirkan huru hara kemanusiaan dalam durasi waktu yang panjang. Inilah lokus unik yang telah menyita perhatian dunia dalam waktu yang panjang. Dalam kasus tertentu, dalam wilayah politik bahkan telah menjadi komoditas dunia.

Pengikut Agama Ibrani, yakni: Yahudi, Kristen dan Islam, dalam kacamata tertentu sebenarnya dapat disebut sebagai konflik keluarga. Konflik antara kakak beradik yang lama tidak pernah mau akur. Mereka memperebutkan tanah warisan, dengan masing-masing pengikut sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan. Meski hanya sejengkal tanah, darah demikian mudah dikucurkan. Padahal secara esensial, tanah inilah yang melahirkan para Nabi yang agung.

Harus diakui bahwa sejak zionisme Israel memaksakan diri membentuk negara merdeka di tanah yang mereka tinggalkan sebelumnya, yakni Palestina, perang itu tak pernah berakhir. Israel yang mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara merdeka [1948] di tengah negara berdaulat, yakni Palestina, dianggap sebagai bentuk penjajahan. Kaum Muslim sekuat tenaga menjaga tanah mereka meski selalu kalah. Begitupun dengan Yahudi Israel. Mereka dengan kekuasaannya, terus menerus mencaplok tanah-tanah masyarakat Palestina.

Masyarakat Palestina yang mayoritas Muslim, dalam perang berkepanjangan itu selalu kalah. Bahkan setiap sehabis perang, sedikit demi sedikit tanah Palestina semakin terus berkurang. Israel yang didukung Barat, khususnya Amerika dan sekutu, selalu membela kepentingan Israel. Akibatnya, perang ini terus terjadi dengan kekalahan yang kian jauh untuk Palestina. Mereka (Palestina) pun, hidup hanya dengan belas kasian warga dunia. Inilah tragedi kemanusiaan moderen yang dalam cerita jangka panjang, hampir tidak ada yang dapat meramalkan.

Berdirinya Negeri Israel

Israel didirikan dengan mengambil tema pembelaan terhadap kaum tertindas. Mereka yang hancur oleh gerakan Holocaust yang dilakukan Nazi Jerman. Dalam wikipedia, 11 Desember 2017, Holocaust  disebut berasal dari bahasa Yunani. Asal katanya adalah ὁλόκαυστος holókaustos atau hólos. Makna dasarnya adalah “seluruh” dan kaustós, “terbakar”. Kata ini, populer juga dengan sebutan Shoah (bahasa Ibrani: השואה, HaShoah yang berarti “bencana” atau “penghancuran”. Kata ini, belakangan lebih populer dengan sebutan genosida.

Inilah tragedi kemanusiaan terparah dunia. Suatu tragedi yang dilakukan Nazi Jerman terhadap kira-kira enam juta penganut Yahudi Eropa selama Perang Dunia II. Inilah program pembunuhan sistematis yang didukung negara Jerman Nazi, yang dipimpin Adolf Hitler. Gerakan ini, berlangsung di seluruh wilayah yang dikuasai Nazi.

Dari sembilan juta masyarakat Yahudi yang tinggal di Eropa sebelum Holocaust, sekitar dua pertiganya tewas dengan lebih dari satu juta anak Yahudi.  Dua  juta wanita Yahudi dan tiga juta pria Yahudi tewas dalam gerakan dimaksud.

Namun demikian, beberapa pakar menyebut bahwa Holocaust [genosida] Nazi itu bukan hanya terhadap kelompok Yahudi. Gerakan ini, juga melakukan pembunuhan massal terhadap orang Roma, Komunis, tawanan perang Soviet, warga Polandia dan Soviet. Tidak hanya sampai di situ, kelompok homoseksual, orang cacat, Saksi Yehuwa dan musuh politik dan keagamaan lainnya, juga dilakukan pembunuhan massal.

Meski banyak juga yang membantah adanya gerakan ini, dan bahkan dianggap sebagai strategi Yahudi untuk menarik simpati masyarakat dunia, tetapi fakta bahwa sejak tragedi 1942 itu, Yahudi melakukan gerakan zion yang mengumpulkan seluruh warga Yahudi yang terserak. Kumpulan zion ini kemudian membentuk negara baru di tanah yang dianggap mereka dijanjikan Tuhan, yakni Palestina.

Sejak tahun 1948, waktu di mana negara dimaksud dideklarasikan, konflik di negeri para Nabi itu, tidak pernah berakhir. Konflik ini bahkan terus berlangsung massif sampai saat ini. Islam versus Yahudi, atau Yahudi versus Islam terus berlangsung. Mereka tidak mampu membentuk suatu negara bersama di mana Yahudi dan Islam serta Kristen hidup damai secara bersama dalam satu negara tunggal. Bersama dalam satu negara dengan agama yang berbeda, tidak mampu mereka tunaikan. Inilah bangsa yang paling egois di dunia.

Leraian tak Menghasilkan

Leraian berbagai pihak agar tidak terjadi perangpun, yang dimainkan dunia luar, termasuk tentu PBB, tidak pernah membuahkan hasil. Bahkan ketika PBB secara resmi membentuk dan mengakui dua negara yang berbeda, yang disebut Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, sebagai satu-satunya solusi untuk menyelesaikan konflik antara Israel dan Palestina, dengan mengakui keduanya sebagai negara berdaulat, tetap tidak dapat menyatukan dua negara yang berbeda itu dalam tanah yang berbeda ini.

Saya tidak membayangkan bagaimana sikap warga masyarakat Timur Tengah jika menimpa masyarakat Indonesia. Mungkin negeri ini akan terpecah menjadi ratusan negara. Terpecah berdasarkan kesamaan agama, kesamaan ideologi, kesamaan Bahasa, adat dan bahkan tradisi. Karena itu, menjadi wajar jika Fazlurrahman (1977) menyebut Indonesia, sebagai negeri masa depan Islam pada kelas dunia. Semoga demikian adanya. Dan semoga pula umat Islam Indonesia, terdewasakan dengan fenomena keumatan pada kelas dunia tadi. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.