Take a fresh look at your lifestyle.

Yakin pada Kebenaran Kitab Suci Pintu Menuju Kebahagiaan | Takwa Part_5

0 18

YAKIN pada Kebenaran Kitab Suci. Suatu ajaran yang bersumber dari kitab suci, harus dipandang suci. Mengapa? Karena ia berasal dari wujud Yang Maha Suci, yakni Sang Gusti yang dalam literatur Islam disebut dengan Allah. Beberapa tulisan lalu, saya menyebut bahwa shalat sendiri dalam konteks tertentu harus difahami sebagai afirmasi akan kemahasucian Tuhan. Karena itu, menjadi dapat dimengerti mengapa Allah mengatakan dalam salah satu firman-Nya, bahwa sekedar “menyentuh”-pun, ia harus datang dengan cara kesucian. Siapapun di antara kita yang belum mensucikan diri dan hatinya, tidak diperkenankan menyentuh kitab suci, salah satunya al Qur’an.

Islam Meng-Imani Empat Kitab Suci

Islam, mewajibkan seluruh penganutnya untuk mempercayai 4 kitab suci, yakni: Jabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud; Tawrat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa dan al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Tanpa keyakinan akan kesucian 4 kitab suci ini, dalam banyak literasi Islam, disebut tidak dapat disebut muttaqien.

Pernyataan ini, menurut saya, setidaknya didukung oleh ayat al Qur’an yang saya fahami, yakni pada surat al Baqarah [2]: 5 yang menyatakan: “…. Dan ciri manusia takwa lainnya adalah mereka yang mempercayai atas apa yang diturunkan Allah, tentu al Qur’an untuk Nabi Muhammad, dan kitab yang diturunkan sebelum al Qur’an …” Jadi dengan nalar ini, mempercayai eksistensi keempat kitab suci dimaksud, termasuk di antara rukun iman. Lepas dengan penyebutan bahwa tiga kitab suci lainnya, dianggap telah banyak dicampuri pikiran manusia, tetapi keyakinan atasnya, yakni keyakinan akan asal atau sumber kitab suci ini dari wujud yang suci yakni Allah, tetap sangat diperlukan.

Karakter ketakwaan seseorang yang mempercayai empat kitab suci ini, mengandaikan bahwa seluruh umat manusia yang muttaqien, diharuskan meyakini kebenarannya. Ini akan mendorong suatu sikap bahwa, poerbedaan dalam setiap diri manusia, sejatinya, lebih atas variasi tafsir yang dimiliki masing-masing orang. Ayat ini akan mengandaikan bahwa secara hakiki, manusia sejatinya sedang dan selalu berada dalam posisinya yang selalu mencari kesucian dan kesejatian diri pada wujud hakiki yang kita sebut dengan Allah.

Makna Kebahagiaan Hidup atas Keyakinan Kitab Suci

Ajakan dengan penyebutan ketakwaan dicirikan dengan keimanan atas empat kitab suci ini, sebenarnya adalah upaya sintetik Islam tentang bagaimana manusia harus membangun harmoni antar sesama. Inilah kedewasaan Umat Islam bahkan jika harus dibandingkan dengan lain selain Islam. Islam memberi pengakuan secara tulus akan kebermaknaan kitab-kitab suci lain selain al Qur’an sebagai bentuk kesucian.

Apa makna yang mungkin diperoleh oleh mereka yang yakin akan empat kitab suci ini? Menurut saya, di sini Islam sedang membangun jiwa pluralisme dan toleransi di kalangan para penganutnya. Manusia sejenis ini, akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki sikap terbuka dan kemampuan bergaul dengan siapapun, karena ia selalu rela mengakui yang lainnya. Dan dalam konteks kehidupan sehari-hari, hanya mereka yang memiliki kemampuan bergaullah semacam inilah yang akan memperoleh kebahagiaan hidup. Karena itu, memang ketakwaan pada akhirnya akan mendorong manusia untuk hidup bahagia.

Mereka yang tidak bahagia itu, dengan bahasa lain, adalah mereka yang tidak memiliki kemampuan memberi penghargaan kepada yang lain. Jika kita ingin menjadi manusia yang muttaqien, maka, syarat utamanya adalah mengakui yang lain. Dan umat Muhammad, adalah mereka tipikal yang memiliki kemampuan dalam soal ini. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar