Yanti tetap Memilih Sendiri | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 10

Yanti tetap Memilih Sendiri | Noktah Kerinduan Tuhan Part-10
0 179

Setelah insiden penuh rona keindahan di Hotel Bandung itu, Yanti untuk beberapa saat lamanya merasa terpukul dan merasa sangat menyesal yang sangat dalam atas apa yang dialaminya. Ia bukan saja merasa bersalah bahwa dirinya telah menodai kesucian cinta yang dimilikinya kepada Alamsyah, tetapi, ia menjadi bingung membuat relasi antara dirinya dengan atasan atau bahkan dengan pemilik perusahaan di mana dia bekerja. Sejak saat itu, HP Yantipun tidak pernah berhenti berdering dalam durasi waktu yang panjang, tentu dengan suara telephon yang sama dan dari sumber telephon yang juga sama, yakni Alamsyah.

Cinta Sebening Embun

Alamsyah sangat tulus mencintainya. Setulus dan sebening embun di pagi hari. Ia merasa bersalah bukan saja terhadap istri yang dijaga dan menjaga ketulusan cinta itu, tetapi, juga tentu atas rasa dirinya kepada Tuhannya. Ia yang yakin menjaga ketulusan cinta istrinya yang mencintainya dengan tulus itu adalah bagian dari cara beribadah kepada Tuhannya, tiba-tiba harus luruh dalam sebuah patologi sosial yang sangat akut. Ia banyak beristighfar dan kembali membaca berbagai ayat dalam kitab suci.

Tidak henti, ia berdo’a kepada Tuhannya atas permohonan ampunan tentu saja. Iapun sejak saat itu, tidak pernah berhenti menambahkan jumlah kedermawanannya kepada fakir miskin dan anak yatim piatu dengan harapan atas apa yang dilakukannya untuk memberi keberkahan kepada Yanti.

Tetapi Alamsyah tidak mengerti, mengapa Yanti tidak mau dinikahinya. Yanti tetap mengelak untuk dinikahi Alamsyah sampai kapanpun. Ketidakmauan itu, bukan lantaran Yanti tidak mencintainya, tetapi, lebih karena ia begitu menyayangi Alamsyah dan menghindari sekuat mungkin pandangan masyarakat atas apa yang dilakukan Yanti dengannya. Demi cintanya, Yanti tidak ingin Alamsyah jatuh karena cintanya kepada dirinya. Ia juga sadar betapa sakitnya hati seorang perempuan yang hari-harinya menunggu suami pulang dari ruang kerja, sementara ia hidup penuh hura-hura dengan perempuan lain.

Tak kuasa dia mengingat apa yang dialaminya di masa lalu, di mana dia menunggu suaminya pulang, tetapi ternyata bermain asmara dengan perempuan lain. Ia tidak ingin istri Alamsyah mengetahui kejadian ini. Ia tetap menyembunyikan segenap kejadian yang dialaminya bersama Alamsyah, tentu ia juga menjaga cinta dan segenap ketulusan cinta dimaksud dalam hati sanubari terdalamnya.

Yanti Positif Hamil

Dua minggu setelah kejadian Bandung itu, Yanti membeli Testpack. Setelah diujicobakan, ternyata cinta kasih mereka yang dilakukan tanpa sengaja membuahkan hasil. Ia positif hamil. Ia ragu awalnya menyampaikan kisah ini kepada Alamsyah. Tetapi kemudian dia akhirnya menyampaikan dengan suara sangat terbata-bata. Hati Alamsyah saat mendengar kabar itu, awalnya sangat gelisah dan membuat dirinya kalang kabut. Pandangan matanya menjadi kosong dan kabur. Setelah berbagai diskusi itu berlangsung dalam komunikasi maya antara keduanya, Yanti tetap pada pendirian untuk tidak mau dinikahi Alamsyah dengan alasan kasian sama istri pertama Alamsyah. Betapa sakitnya seorang istri, jika diketahui suaminya melakukan hal-hal yang tidak baik dalam pandangan agama dan sosial.

“Alamsyah mengatakan: “harus bagaimanakah aku Yanti … Aku tulus mencintai kamu. Tak mungkin rasanya aku melupakan dan meninggalkan serta membiarkanmu dalam kesendirian dengan duka tentu saja didalamnya. Kau harus yakin, bahwa betapa aku sangat tulus mencintaimu. Dengan terbata-bata, Yanti mengatakan: “Kau juga jangan ragukan cintaku. Tiada kebahagiaan kecuali aku mendengar suaramu dan mengetahui kalau dirimu berada dalam segenap kebaikan. Tetapi demi cinta tulusku kepadamu, maka, biarkanlah aku hidup tanpa dirimu”.

Sejak saat itu, Alamsyah sering menangis sendiri. Terlebih ketika Alamsyah tahu, Yanti tetap ingin dalam kesendirian tanpa dirinya. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah wanita yang bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Janin ini akan aku biarkan tetap tumbuh dalam rahiemku, toch kalaupun menikah denganmu, apa yang kita lakukan tetap salah, dan tidak menghapus dosa yang telah dilakukannya bersama. Jangan khawatir, kata Yanti aku akan menjaganya sebagaimana aku menjaga cintamu sampai kapanpun.

Ketika Alamsyah bertanya, bagaimana jika ada orang lain yang bertanya siapa ayah anak yang ada dalam rahiem-mu Yanti? Ia menjawab dengan tangisan dan kembali mengatakan bahwa biarlah hal ini menjadi urusanku. Dan di luar dugaan Alamsyah, Yanti menikah dengan seorang pemuda yang tidak menikah-menikah meski umurnya sudah 42 tahun. Laki-laki itu adalah kawannya sesama siswa di SMA di mana mereka pernah belajar. Yanti tahu kalau laki-laki itu adalah tidak normal, karena ia tidak memiliki hasyrat asmara.

Yantipun jujur mengatakan bahwa perkawinan dengan pemuda itu, hanya untuk menutupi aib sosialnya. Ia mengatakan secara jujur kepada laki-laki itu. Ia rela dikawin kontrak kata yanti kepada Alamsyah suatu hari. Ini adalah kawin berpura-pura. Hubungan tanpa sedikitpun rasa. Pernikahan itupun dilangsungkan dengan sangat sederhana, 4 minggu setelah kejadian Bandung bersama Alamsyah. Perkawinan itu hanya dihadiri Ghina, dan segenap keluarga Yanti. Tanpa seorangpun dari keluarga suami kontraknya.

Demi Cinta aku Mencintai Keluargamu

Setelah Yanti posisitif hamil dan ia tetap pada pendiriannya untuk tidak menikah dengan Alamsyah, dengan alasan karena mencintai keluarganya, Alamsyah hanya menghabiskan sepertiga malamnya berdo’a kepada Allah. Alamsyah bukan hanya sekedar mendoakan kesehatan Yanti dan anak-anaknya, tetapi juga mendo’akan segenap kebahagiaan untuknya dan keluarganya.

“Ia merelakan waktu istirahatnya hanya untuk bertemu dengan Tuhannya. “Ya Allah .. jagalah Yanti dan segenap keluarganya. Berilah perlindungan dan jadikanlah ketabahan dan ketaatan kepada-Mu selamanya. Aku tak rela dia menenestakan air mata karenaku. Aku demikian tulus mencintainya sampai kapanpun. Jika apa yang kami lakukan tidak bisa Kau maafkan, maka, jangan Kau tiba-kan siksa-Mu kepada anak yang ada dalam janinnya. Aku berlindung kepada-Mu dan mohon berilah segenap ampunan itu untuk kami selamanya”

Sejak saat itu, Alamsyah hanya membaca dan membaca al Qur’an. Ia menjadi demikian tenang setenang ikan-ikan dalam lautan. Hanya saja, banyak waktu, yang dia habiskan untuk meneteskan air mata ketulusan atas cintanya kepada Yanti. Dengan nada agak senyap, Alamsyah sering mengatakan: “Yanti … bahagialah selalu. Kalau kau benar-benar mencintaiku dan menyayangiku, maka, senyumlah agar aku tegar menjalani hidup. By. Charly Siera … Bersambung

Komentar
Memuat...