Zakat Menonjol Sebagai Kewajiban Agama

0 9

Rasa kasih sayang dan baik hati adalah kaidah yang harus dijunjung tinggi, tetapi hal-hal  tersebut bukan ide yang abstrak. Ide-ide tersebut harus diletakkan dalam konteks. Perintah untuk adil yang ditambah dengan kasih sayang dan murah hati dalam rangka kolektif, diharapkan dapat menjelma menjadi altruisme yang timbul dari konsep solidaritas yang  menentang egoisme. Dalam Islam, keadilan adalah motivasi keagamaan yang esensiil dan altruisme adalah dasar moral yang pokok bagi tatanan sosial. Dalam hal ini, bentuk-bentuk kedermawanan (philanthropy) seperti zakât, shadaqah, infâq dan derma-derma lain, menggambarkan pikiran Islam tentang ide charity scara jelas.

Sifat imperatif dari zakât menimbulkan paham  bahwa perasaan bermurah hati dan belas kasihan akan beku karena sudah dimekanisasikan oleh hukum Islam. Pada permulaannya, zakât diberikan secara suka rela. Zakât menjadi wajib dengan timbulnya institusi Islam untuk menolong orang-orang mukmin, fakir yang bertambah jumlahnya dan  membantu keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh pejuang-pejuang penegak Islam yang telah gugur. Lama kelamaan zakat  akhirnya memiliki konotasi legal yang menonjol sebagai kewajiban agama.  Sebenarnya sifat legalis yang nampak dalam tindakan tersebut, tidak membatasi rasa murah hati dari segi material. Oleh karenanya, al-Qur’an tidak serta merta memuji si pemberi zakat, bahkan “Perkataan yang baik dan pengampunan adalah lebih baik daripada zakat yang diikuti  dengan  omelan.”

Pemberian zakat di samping didasarkan karena kecintaan pemberi kepada Allah, tetapi dalam waktu yang sama juga tidak mengurangi kecintaan dan solidaritas kemanusiaan pemberinya kepada tetangganya. Islam memandang bahwa, segala sesuatu adalah milik Tuhan, tak seorang pun yang mempunyai hak miliki yang eksklusif.  Dengan demikian, zakat merupakan  latihan spiritual yang sesuai dengan filosifis agama yang menganjurkan tiap muslim untuk mengangkat dirinya lebih tinggi dari sekedar memikirkan hajat material. Agama memindahkan egoisme material pengikutnya kepada altruisme, dari individual kepada jiwa kolektif.

Dengan demikian, dalam memberikan zakat orang tidak merasa kehilangan  sebagian dari hartanya, akan tetapi sebaliknya, mereka merasa bahwa ia telah mampu mengembalikan sebagian yang sangat kecil dari anugerah Allah yang dititipkan kepadanya. Niat untuk bersyukur kepada Pencipta segala yang ada, memberikan sifat ketaqwaan kepada muzakkinya. Dari sini, zakat di samping berfungsi  sebagai pembersih, dan memberi  legalitas  kepada kekayaan yang dizakati, juga mendorong sifat murah hati yang tidak kehilangan spnontanitasnya. Di sisi lain, seorang fakir yang minta atau menerimanya, tetap dapat mempertahankan kehormatannya.

Belas kasihan yang dilegalisir sebagaimana diterangkan di atas, tidak lagi mempunyai aspek merendahkan yang dirasakan oleh si penerima ketika  bertemu dengan si pemberinya. Zakat, di samping sebagai pemberian si kaya yang didasarkan atas kemauan dan perintah Tuhannya, juga sebagai “hak si miskin”  yang dapat diminta dan diterima secara legal.

Segala Tindakan Baik Adalah Shadaqah

Islam menganjurkan bertindak moderasi (tidak berlebih-lebihan). Pengampunan  seseorang terhadap kesalahan orang lain, menyempurnakan dan menghiasi sikap orang yang bijak. Sikap baik hati kepada orang yang baik, sikap kasihan kepada orang yang sesat yang diusahakan supaya kembali kejalan yang benar, merupakan ekspresi tinggi dari akal dan pengertian.  Sifat murah hati harus mewarnai segala tindakan orang mukmin. Kata “belas kasihan” meliputi bermacam-macam tindakan manusia. Sabda Nabi: “Segala tindakan baik adalah shadaqah, senyummu dihadapan saudaramu adalah shadaqah, nasehat kepada tetangga agar ia menjalankan hal yang baik sama dengan shadaqah, menunjukkan jalan kepada orang yang belum mengetahuinya adalah shadaqah, menolong orang buta adalah shadaqah, menghilangkan kerikil, duri, penghalang  jalan, adalah shadaqah.”  Dengan statemen tersebut, terminology shadaqah meskipun berakhir pada tindakan materi, tetapi tindakan tersebut harus terlebih dahulu didasari pada sikap cinta kasih kemanusiaan.

Humanisme Islam tidak mengesampingkan monoteisme mutlak, akan tetapi melewatinya lebih dan memberikan kepada manusia keagungan yang sebenarnya dan memungkinkan untuk mengembangkan kebajikannya. Dalam waktu yang sama, Islam menganjurkan kepada manusia untuk mengutamakan hal-hal yang bersifat spiritual dan mengambil faedah secara wajar dari kekayaan dunia yang diberikan oleh Tuhan sebagai bukti sifat Pemurah-Nya.

Doktrin Islam tidak hanya membicarakan watak yuridis diri manusia. Gabungan antara spiritual dan duniawi selalu ditekankan sehingga  kita dapat memahami watak  manusia dalam melakukan deduksi terhadap kaidah-kaidah yuridis dan moral. Kewajiban pokok muslim terhadap Tuhan, adalah tunduk dan bertindak lurus. Terhadap sesama manusia, kewajiban-kewajiban itu meliputi dan menghiasai seluruh aktifitas, seperti  keadilan dan kejujuran dalam transaksi, sikap sungguh-sungguh, amanat dan loyal terhadap persetujuan, sikap hormat dan cinta terhadap sesama manusia, khususnya orang tua dan kerabat, sikap merendahkan diri, persamaan, sikap hormat dan melindungi orang lemaah khususnya  para janda dan yatim piatu. Al-Qur’an adalah kunci khazanah etika Islam. Al-Qur’an tidak menuliskan konsepsi metafisik kepada manusia, dengan dalih karena jiwa  hanya urusan Tuhan. Tetapi al-Qur’an juga menunjukkan perbuatan yang harus dilakukan. Dengan demikian, segala  nilai moral akan menjadi identik dengan taqwâ.

Perkembangan Humanisme

Afirmasi manusia terhadap peringatan bahwa manusia itu tak berharga di depan Tuhan, mengakibatkan perkembangan humanisme yang seimbang yang tidak mendorong kepada mengagungkan individu  sebagai tujuan  terakhir dari kepatuhan yang buta dan tidak bersyarat kepada struktur politik setempat. Kekuatan Islam akan menjamin hak-hak manusia sekaligus melindungi masyarakat ketika berhadapan  dengan dua ideologi  yang mengancamnya; liberalisme yang tak terkendalikan dan materialisme yang zalim.

Istilah ini bermakna; cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia yang direalisasikan dalam aksi riel seperti kedermawanan yang disalurkan melalui badan-badan sosial kemanusiaan. Lihat Petter, Dictionary,.., pada enteri “p”. Ba’albakî mengertikan istilah dengan;

 الخيرية الإنسانية, حب البشر والعمل على تعزيز السعادة للإنسانية

Lihat Munir Ba’albaki,  Al-Mawrid, h. 698.

Filosofis ini diungkapkan oleh al-Qur’an ketika menyebut medan kehidupan yang diperebutkan oleh manusia dengan ungkapan “dunyâ” yang berarti rendah, hina atau setidaknya sebagai sesuatu yang tidak pantas dipertaruhkan. Terhadap sikap manusia dalam usaha untuk mendapatkannya, Nabi menaruhkan ajaran bahwa materi tersebut jangan sampai didapat dengan cara mempertaruhkan harga diri yang tinggi dan suci. Oleh karenanya, pemberi dinilai lebih bergengsi dari penerima, baik dari segi materi maupun psikologis. Demikian Nabi agung kita menuturkan dalam sabdanya.

Filosofis ini diungkapkan oleh al-Qur’an ketika menyebut medan kehidupan yang diperebutkan oleh manusia dengan ungkapan “dunyâ” yang berarti rendah, hina atau setidaknya sebagai sesuatu yang tidak pantas dipertaruhkan. Terhadap sikap manusia dalam usaha untuk mendapatkannya, Nabi menaruhkan ajaran bahwa materi tersebut jangan sampai didapat dengan cara mempertaruhkan harga diri yang tinggi dan suci. Oleh karenanya, pemberi dinilai lebih bergengsi dari penerima, baik dari segi materi maupun psikologis. Demikian Nabi agung kita menuturkan dalam sabdanya. Budy Munawar Rachman, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, (Jakarta: Paramadina, 1996), h. 298.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.